Selasa, 25 Desember 2012

Pendekatan Konseling Realistis


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Dalam kehidupan kita, realita selalu dikaitkan dengan kenyataan. Pendekatan Realistis dikembangkan oleh William Glasser, seorang psikolog dari California. Istilah Reality ialah suatu standar atau patokan obyektif, yang menjadi kenyataan atau realitas yang harus diterima. Realitas atau kenyataan itu dapat berwujud suatu realitas praktis, realitas sosial, atau realitas moral. Sesuai dengan pandangan behavioristik, yang terutama disoroti pada seseorang adalah tingkah lakunya yang nyata.
Tingkah laku itu dievaluasi menurut kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan realitas yang ada.
Dalam pendekatan ini, konselor dalam hal ini guru BK bertindak aktif, direktif, dan didaktik. Dalam konteks ini, konselor berperan sebagai guru dan sebagai model bagi klien dalam hal ini peserta didik. Disamping itu, guru BK juga membuat kontrak dengan klien untuk mengubah perilakunya. Ciri yang sangat khas dari pendekatan ini adalah tidak terpaku pada kejadian-kejadian di masa lalu, tetapi lebih mendorong klien untuk menghadapi realitas. Pendekatan ini juga tidak memberi perhatian pada motif-motif bawah sadar sebagaimana pandangan kaum psikoanalis. Akan tetapi, lebih menekankan pada pengubahan tingkah laku yang lebih bertanggung jawab dengan merencanakan dan melakukan tindakan-tindakan tersebut.

B.            Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk  mengetahui tentang Sejarah Perkembangan Pendekatan Realistis, Ciri-Ciri Pendekatan Realistis, kebutuhan-kebutuhan dasar psikologis manusia, Konsep Dasar, Teori Kontrol, Konsep 3R, Proses Konseling, Tahap-Tahap Konseling, Tujuan Konseling, serta Peran dan Fungsi Konselor dalam pendekatan realitas.

BAB II
PEMBAHASAN

A.       Sejarah Perkembangan Pendekatan Realistis
             
              William Glasser merupakan lulusan dari the Case Institute of Technology sebagai Insinyur kimia pada tahun 1944 di usia 19 tahun, kemudian ia mengambil master di bidang Psikologi Klinis pada usia 23 tahun di Universitas yang sama. Pada tahun 1956 ia menjadi kepala bagian psikiatri di the Ventura School of Girls yang merupakan institusi untuk menangani kenakalan remaja perempuan. Pada saat inilah Glasser mengembangkan konsep pendekatan realistis. Melalui buku pertamanya yang berjudu “Mental Health or Mental Illmess” (1961) ia menuangkan landasan pemikirannya mengenai landasan berfikir dari teknik dan konsep dasar terapi realitas.
Glasser menggunakan istilah Reality therapy pada tahun 1964 pada manuskrip yang berjudul “Reality Therapy: A Realistic Approach to the Young Offender”. Pada tahun 1968 Glasser mendirikan the Institute for Reality Therapy di Los Angeles.

B.       Ciri-Ciri Pendekatan Realistis

       Ada 8 ciri yang menentukan pendekatan realitas sebagai berikut :
1.       Terapi realitas menolak tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidak bertanggung jawaban.

2.       Pendekatan ini tidak berurusan dengan diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan mempersamakan kesehatan mental dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.
3.       Terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang alih-alih pada perasaan-perasaan dan sikap-sikap. Meskipun tidak menganggap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu tidak penting, tetapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang.

4.       Terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya.

5.        Terapi realitas tidak menekankan transferensi. Ia tidak memandang konsep tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis menempuh cara beradanya yang sejati, yakni bahwa mereka menjadi diri sendiri, tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibu klien.

6.       Terapi realitas menekankan aspek-aspek kesadaran, bukan aspek-aspek ketaksadaran. Teori  psikoanalitik, yang berasumsi bahwa pemahaman dan kesadaran atas proses-proses ketaksadaran sebagai suatu prasyarat bagi perubahan kepribadian, menekankan pengungkapan konflik-konflik tak sadar melalui teknik-teknik seperti analisis transferensi, analisis mimpi, asosiasi-asosiasi bebas, dan analisis resistensi. Sebaliknya, terapi realitas menekankan kekeliruan yang dilakukan oleh klien, bagaimana tingkah laku klien sekarang hingga dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, dan bagaimana dia bisa terlibat dalam suatu rencana bagi tingkah laku yang berhasil yang berlandaskan tingkah laku yang bertanggung jawab dan realistis.

7.   Terapi realitas menhapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif dan bahwa hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada klien dan perusakan hubungan terapiutik.

8.    Terapi realitas menekankan tanggng jawab, yang oleh Glasser(1965, hlm 13) didefinisikan sebagai “kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuha sendiri dan melakukannya dengan cara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka”. Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup.

C.       Pandangan Tentang Manusia
Glasser percaya bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan psikologis yang secara konstan (terus-menerus) hadir sepanjang rentang kehidupannya dan harus dipenuhi. Ketika seseorang mengalami masalah, hal tersebut disebabkan oleh satu faktor, yaitu terhambatnya seseorang dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya. Keterhambatan tersebut pada dasarnya karena penyangkalan terhadap realita, yaitu kecenderungan seseorang untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Mengacu pada teori hirarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow, Glasser mendasari pandangannya tentang kebutuhan manusia untuk dicintai dan mencintai, dan kebutuhan untuk merasa berharga bagi orang lain.
Secara rinci, Glasser menjelaskan kebutuhan-kebutuhan dasar psikologis manusia, yang meliputi:

a.       Cinta (Beloging/Love)
Salah satu kebutuhan psikologis manusia adalah kebutuhannya untuk merasa memiliki dan terlibat atau melibatkan diri dengan orang lain. kebutuhan ini disebut Glasser sebagai Identity Society, yang menekankan pentingnya hubungan personal. Beberapa aktivitas yang menunjukkan kebutuhan ini antara lain: persahabatan, acara perkumpulan tertentu, dan keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan. Kebutuhan ini oleh Glasser dibagi dalam tiga bentuk: Social beloging, work beloging dan family beloging.   

b.      Kekuasaan (Power)
Kebutuhan atas kekuasaan meliputi kebutuhan untuk berprestasi, merasa berharga, dan mendapatkan pengakuan. Kebutuhan ini biasanya diekspresikan melalui kompetisi dengan orang-orang disekitar kita, memimpin, mengorganisir, meyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin, menjadi tempat bertanya atau meminta pendapat bagi orang lain, melontarkan ide atau gagasan dan sebagainya.

c.       Kesenangan (Fun)
Merupakan kebutuhan untuk merasa senang, bahagia. Pada anak-anak, terlihat dalam aktifitas bermain. Kebutuhan ini muncul sejak dini, kemudian terus berkembang hingga dewasa. Misalnya, berlibur untuk menghilangkan kepenatan, bersantai, melucu, humor, dan sebagainya.

d.      Kebebasan (Freedom)
Kebebasan merupakan kebutuhan untuk merasakan kebebasan atau kemerdekaan dan tidak bergantung pada orang lain, misalnya membuat pilihan, memutuskan akan melanjutkan studi pada jurusan apa, bergerak, dan berpindah dari satu tempat ketempat lain. kebutuhan-kebutuhan tersebut bersifat universal, tetapi dipenuhi dengan cara yang unik oleh masing-masing manusia. Glasser memiliki pandangan yang optimis tentang kemampuan dasar manusia, yaitu kemampuan untuk belajar memenuhi kebutuhannya dan menjadi orang yang bertanggung jawab. Tingkah laku yang bertanggung jawab merupakan upaya manusia mengontrol lingkungan untuk memenuhi kebutuhan dan menghadapi realita yang dialami dalam kehidupannya.
Ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya, menurut Glasser orang tersebut mencapai identitas sukses. Ini terkait dengan konsep perkembangan kepribadian yang sehat, yang ditandai dengan berfungsinya individu dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya secara tepat (Hansen, Warner, dan Smith).
Dalam proses  pembentukan identitas, individu mengembangkan keterlibatan secara emosional dengan orang lain. Individu perlu merasakan bahwa orang lain memberi perhatian kepadanya dan berpikir bahwa dirinya memiliki arti. Proses ini berlangsung sejak bayi. Bagi anak-anak, interaksi dengan orang tua (ibu) atau orang dewasa lain, membuat anak belajar merasakan keterlibatan orang lain, kedekatan, kehangatan psikologis, dan ikatan emosional. Dari pengalaman tersebut, anak belajar bagaimana menerima dan memberi kasih sayang, dan belajar bahwa dirinya memiliki arti bagi orang lain dan orang lain juga berarti bagi dirinya.
Bila sejak kecil anak tidak merasakan bagaimana menerima dan memberi kasih sayang, pada tahap kehidupan berikutnya, ia mengalami kesulitan dalam mencintai, memberi kasih sayang atau belajar bagaimana ia berarti bagi dirinya juga bagi orang lain. jika kebutuhan psikologisnya sejak awal tidak terpenuhi, maka seseorang tidak mendapatkan pengalaman belajar bagaimana memenuhi kebutuhan psikologisnya atau orang lain. belajar bagaimana bertingkah laku yang bertanggung jawab merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan anak untuk mencapai “identitas sukses”. Anak memperolehnya dengan dengan terlibat pada berbagai aktivitas yang memenuhi kebutuhannya melalui interaksi dengan orang tua yang bertanggung jawab, yaitu yang menunjukkan keterlibatan dalam pengasuhan anaknya dengan menjadi model, melatih kedisiplinan, dan mencintai, dan sebagainya.
Dapat dirumuskan Glasser tentang manusia adalah sebagai berikut:
1.      Setiap individu bertanggung jawab terhadap kehidupannya.
2.      Tingkah laku seseorang merupakan upaya mengontrol lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya.
3.      Individu ditantang untuk mengahadapi realita tanpa memperdulikan kejadian-kejadian di masa lalu, serta tidak memberi perhatian pada sikap dan motivasi di bawah sadar.
4.      Setiap orang memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu pada masa kini.



D.       Konsep Dasar
Pada dasarnya setiap individu terdorong untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya, masing-masing individu juga memiliki kebutuhan yang beragam, dimana kebutuhan tersebut bersifat unik pada masing-masing individu, dan tentu saja keinginan atau kebutuhan tersebut terkadang berbeda dengan individu yang lain.
Ketika seseorang dapat memenuhi apa yang diinginkan, kebutuhan tersebut terpuaskan dan  tentu saja ia akan merasa senang. Tetapi, jika apa yang diperolehnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan dan sangat  bertolak belakang dari apa yang dibutuhkan, maka orang tersebut akan frustasi, dan pada akhirnya akan terus memunculkan perilaku baru sampai keinginannya terpuaskan dan merasa benar-benar terpenuhi.
 Artinya, ketika timbul perbedaan antara apa yang diinginkan dengan apa yang diperoleh, membuat individu terus memunculkan perilaku-perilaku yang spesifik,  yang  membuatnya terlihat berbeda dengan yang lain.
 Jadi, perilaku yang dimunculkan oleh masing-masing individu ada tujuannya, yaitu dibentuk untuk mengatasi hambatan antara apa yang diinginkan dengan apa yang diperoleh, atau muncul karena dipilih dan diinginkan sendiri oleh individu.
Perilaku manusia  merupakan perilaku total (total behavior), atau perilaku sepenuhnya yang terdiri dari doing (melakukan), thinking (berpikir), feeling (Merasakan) dan psysiology (fisiologis).
Oleh karena perilaku yang dimunculkan adalah perilaku yang bertujuan dan dipilih sendiri, maka Glasser menyebutnya dengan teori kontrol.



E.       Teori Kontrol
Penerimaan terhadap realita, menurut Glasser harus tercermin dalam perilaku total yang mengandung empat komponen, yaitu: berbuat (doing), berfikir (thinking), merasakan (feeling),  dan menunjukkan respon-respon fisiologis (physiology). Seperti halnya keempat roda mobil membawa arah mobil berjalan, demikian halnya keempat komponen dari total behavior tersebut menetapkan arah hidup individu.
Glasser menjelaskan bahwa hal ini secara langsung dapat mengubah cara kita merasakan terpisah dari apa yang kita lakukan dan pikirkan, merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Kunci untuk mengubah perilaku total terletak pada pemilihan untuk mengubah apa yang kita lakukan dan pikirkan. Sementara itu, reaksi dan respon fisiologis termasuk dalam proses tersebut.
Ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya, menurut Glasser orang tersebut mencapai identitas sukses. Pencapaian identitas sukses itu terikat pada konsep 3R, yaitu keadaan dimana individu dapat menerima kondisi yang dihadapinya, dicapai dengan menunjukkan total behavior (perilaku total) yakni melakukan sesuatu, berfikir, merasakan, dan menunjukkan respon-respon fisiologis secara bertanggung jawab, sesuai realita, dan benar.

F.        Konsep 3R
Dalam Bassin (1976:83-85) Glasser menggambarkan konsep ini sebagai berikut:
a.       Responsibility (tanggung jawab)
Kemampuan individu untuk memnuhi kebutuhannya tanpa harus merugikan orang lain.
b.      Reality (kenyataan)
Kemampuan yang akan menjadi tantangan bagi individu untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap individu harus memenuhi bahwa ada dunia nyata, dimana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam rangka mengatasi masalahnya. Realita yang dimaksud adalah sesuatu yang tersusun dari kenyataan yang ada dan apa adanya.



c.       Right (kebenaran)
Merupakan ukuran atau norma-norma yang diterima secara umum, sehingga tingkah laku dapat diperbandingkan. Individu yang melakukan hal ini mampu mengevaluasi diri dan sendiri bila melakukan sesuatu melalui perbandingan tersebut dan ia merasa nyaman bila mampu bertingkah laku dalam tata cara yang diterima secara umum.

G.      Proses Konseling
Pendekatan ini melihat konseling sebagai proses rasional yang menekankan pada perilaku sekarang dan saat ini. Artinya, klien ditekankan untuk melihat perilaku yang dapat diamati dari pada motif-motif bawah sadarnya.
Dengan demikian klien dapat menyadari serta mengevaluasi apakah perilakunya tersebut cukup efektif dalam memnuhi kebutuhannya atau tidak. Jika dirasa perilaku-perilaku yang ditampilkan tidak membuat klien merasa puas, maka konselor mengarahkan klien/konseli untuk melihat peluang-peluang yang dapat dilakukan dengan merencanakan tindakan yang lebih bertanggung jawab. Perilaku yang bertanggung jawab merupakan perilaku-perilaku yang sesuai dengan kenyataan yang dihadapi, oleh Glasser disebut penerimaan terhadap realita. Dengan demikian dapat konseli menyelesaikan tekanan-tekanan dan permasalahan yang dialaminya.
Menurut Glasser, hal-hal yang membawa perubahan sikap dari penolakan ke penerimaan realitas yang terjadi selama proses konseling adalah:

1.      Konseli dapat mengeksplorasi keinginan, kebutuhan, dan apa yang dipersepsikan tentang kondisi yang dihadapinya. Di sini klien/konseli terdorong untuk mengenali dan mendefinisikan apa yang mereka inginkan untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah apa yang diinginkan, konseli lalu mengevaluasi apakan yang ia lakukan ini memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

2.      Konseli fokus pada perilaku sekarang tanpa terpaku pada permasalahan masa lalu. Tahap ini merupakan kesadaran konseli untuk memahami bahwa kondisi yang dialaminya bukanlah hal yang bisa dipungkiri. Kemudia mereka mulai menentukan alternatif apa yang harus dilakukan. Dimana klien dituntut untuk mengubah perilaku secaara total, tidak hanya sikap dan perasaan, namun juga pikiran dan tindakan mereka.

3.      Konseli/klien diharapkan mampu untuk mengevaluasi perilakunya, merupakan kondisi dimana ia harus membuat penilaian tentang apa yang telah ia lakukan terhadap dirinya berdasarkan sistem nilai yang berlaku dimasyarakat. Apakah yang dilakukan dapat menolong dirinya atau sebaliknya, apakah realistis atau dapat dipercaya.

4.      Konseli mulai merencanakan perubahan yang dikehendakinya dan komitmen terhadap apa yang telah direncanakan. Rencana-rencana yang ditetapkan harus sesuai dengan kemampuan klien/konseli, bersifat konkrit atau jelas pada bagian mana dari perilakunya sendiri yang akan diubah, realistis dan melibatkan perbuatan positif. Rencana itu juga harus dilakukan dengan segera dan berkesinambungan.

H.       Tahap-tahap Konseling

Proses konseling dalam pendekatan realistis berpedoman pada dua unsur utama yaitu penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif dan beberapa prosedur yang menjadi pedoman untuk mendorong terjadinya perubahan pada klien/konseli. Secara praktis, Thompson, et. Al. Mengemukakan delapan tahap dalam konseling realita:



1.      Konselor menunjukkan keterlibatan dengan konseli (be friend)
Pada tahap ini, konselor mengawali pertemuan dengan bersikap otentik, hangat, dan menaruh perhatian pada hubungan yang sedang dibangun. Konselor harus dapat melibatkan diri pada konseli dengan memperlihatkan sikap hangat dan ramah. Dengan demikian konseli akan terbuka dan bersedia menjalani proses konseling jika ia merasakan konselor/guru Bknya terlibat, bersahabat, dan dapat dipercaya.
Konselor juga perlu menunjukkan bahwa ia bertekad membantu konseli. Koinseling realistis selalu berpedoman bahwa perilaku total (total behavior) hampir selalu dipilih. Karenanya, tingkah laku yang lebih efisien dan lebih membantu diperlukan bagi konseli yang sedang menghadapi masalah.

2.     Fokus Pada Perilaku Sekarang
Setelah konseli dapat melibatkan diri kepada konselor, maka konselor menanyakan kepada konseli apa yang akan dilakukannya sekarang. Tahap kedua ini merupakan eksplorasi diri bagi konseli. Konseli mengungkapkan ketidaknyamanan yang ia rasakan dalam menghadapi permasalahannya. Lalu konselor meminta konseli mendeskripsikan hal-hal apa saja yang telah dilakukan dalam menghadapi kondisi tersebut.
Secara rinci, tahap ini meliputi:
a)      Eksplorasi “picture album” (keinginan), kebutuhan, dan persepsi
b)      Menanyakan keinginan-keinginan konseli
c)      Menanyakan apa yang benar-benar diinginkan konseli
d)     Menanyakan apa yang terpikir oleh konseli tentang apa yang diinginkan orang lain dari dirinya dan menanyakan bagaian konseli melihat hal tersebut
Pada tahap kedua ini juga konselor perlu mengatakan kepada konseli apa yang dapar dilakukan konselor, yang diinginkan konselor dari konseli, dan bagaimana konselor melihat situasi tersebut, kemudian membuat komitmen untuk konseling.
3.      mengeksplorasi total behavior konseli
Menanyakan apa yang dilakukan konseli (doing), yaitu: konselor menanyakan secara spesivik apa saja yang dilakukan konseli, cara pandang dalam konseling Realita, akar permasalahan konseli bersumber pada perilakunya (doing), bukan pada perasaannya. Misal, konseli mengungkapkan setiap kali menghadapi ujian ia mengalami kecemasan yang luar biasa. Dalam pandangan Konseling Realita, yang harus diatasi bukan kecemasan konseli, tapi hal-hal apa saja yang telah dilakukannya untuk menghadapi ujian.

4.      Konseli Menilai Diri Sendiri atau Melakukan Evaluasi
Memasuki tahap keempat, konselor menanyakan kepada konseli apakah pilihan perilakunya itu didasari oleh keyakinan bahwa hal itu baik baginya. Fungsi konselor tidak untuk menilai benar atau salah perilaku konseli, tapi membimbing konseli untuk menilai perilakunya saat ini. Beri kesempatan kepada konseli untuk mengevaluasi, apakah ia cukup terbantu dengan pilihannya tersebut.

5.      Merencanakan Tindakan yang Bertanggungjawab
Tahap ketika konseli mulai menyadari bahwa perilakunya tidak menyelesaikan masalah, dan tidak cukup menolong keadaan dirinya, dilanjutkan dengan membuat perencanaan tindakan yang lebih bertanggungjawab. Rencana yang disusun sifatnya spesifik dan konkret. Ha-hal  apa yang akan dilakukan konseli untuk keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinaya.

6.      Membuat Komitmen
Konselor mendorong konseli untuk merealisasikan rencana yang telah disusunnya bersama konselor sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan.


7.       Tidak Menerima Permintaan Maaf atau Alasan Konseli
Konseli akan bertemu kembali dengan konselor pada batas waktu yang telah disepakati bersama. Pada tahap ini konselor menanyakan perkembangan perubahan perilaku konseli.
Apabila konseli tidak atau belum berhasil melakukan apa yang telah direncanakannya, permintaan maaf konseli atas kegagalannya tidak untuk dipenuhi konselor. Sebaliknya, konselor mengajak konseli untuk melihat kembali rencana tersebut dan mengevaluasinya mengapa konseli tidak berhasil. Konselor selanjutnya membantu konseli merencanakan kembali hal-hal yang belum berhasil ia lakukan.
Pada tahap ini sebaiknya konselor menghindari pertanyaan dengan kata “mengapa” sebab kecendrungannya konseli akan bersikap defensif dan mencari alasan. Konselor juga tidak memberikan hukuman, mengkritik, dan berdebat, tetapi adapkan konseli dengan konsekuensi, menurut Gleser, memberikan hukuman akan mengurangi keterlibatan konseli dan menyebabkan ia merasa lebih gagal.

8.      Tindak Lanjut
Merupakan tahap terakhir dalam konseling. Konselor dan konseling mengevaluasi perkembangan yang dicapai, konseling dapat berakhir atau dilanjutkan jika tujuan yang telah ditetapkan belum dicapai.



I.          Tujuan Konseling
Layanan konseling ini bertujuan menbantu konseli mencapai identitas berhasil. Konseli yang mengetahui identitasnya, akan mengetahui langkah-langkah yang akan ia lakukan dimasa yang akan lakukan dimasa yang akan datang dengan segala konsekuensinya. Bersama-sama konselor, konseli dihadapkan kembali pada kenyataan hidup. Sehingga dapat memahami dan mampu menghadapi realitas.

J.         Peran dan Fungsi Konselor
Fungsi konselor dalam pendekatan realitas adalah melibatkan diri dengan konseli, bersikap direktif dan ditaktif, yaitu berperan seperti guru yang mengarahkan dan dapat saja mengkonfrontasi, sehingga konseli mampu menghadapi kenyataan. Di sini, terapis sebagai fasilitataor yang membantu. konseli agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realistis.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pendekatan Realitas adalah suatu standar atau patokan obyektif, yang menjadi kenyataan atau realitas yang harus diterima. Realitas atau kenyataan itu dapat berwujud suatu realitas praktis, realitas sosial, atau realitas moral. Yang paling sering disoroti pada seseorang adalah tingkah lakunya yang nyata. Tingkah laku itu dievaluasi menurut kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan realitas yang ada, dengan menitikberatkan tanggung jawab yang dipikul setiap orang untuk berprilaku sesuai dengan realitas yang dihadapi.

B.     Saran
Bertanggung jawab merupakan hasil dari aneka usaha belajar memenuhi kebutuhan kitadalam realita hidup, yang menghadapkan kita pada norma-norma realitas, adat  istiadat sosial, nilai-nilai kehidupan, serta pembatasan gerak-gerik yang lain. Oleh karena itu janganlah kita memiliki keinginan bertindak sesuka hati, hendaklah kita menunjukkan tingkah laku yang tepat dan menghindari tingkah laku yang salah. Tugas kita sebagai seorang konselor hendaklah   membantu dalam proses konseling untuk menilai tingkah laku klien dari sudut bertindak secara bertanggung jawab. Dengan demikian, proses konseling akan menjadi pengalaman belajar menilai diri sendiri dan, dimana perlu, menggantikan tingkah laku yang keliru dengan tingkah laku yang tepat.





ΓΌ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar