BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam
kehidupan kita, realita selalu dikaitkan dengan kenyataan. Pendekatan
Realistis
dikembangkan oleh William Glasser, seorang psikolog dari California. Istilah
Reality ialah suatu standar atau patokan obyektif, yang menjadi kenyataan atau
realitas yang harus diterima.
Realitas
atau kenyataan itu dapat berwujud suatu realitas praktis, realitas sosial, atau
realitas moral. Sesuai dengan pandangan behavioristik, yang terutama disoroti
pada seseorang adalah tingkah lakunya yang nyata.
Tingkah laku itu dievaluasi menurut kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan realitas yang ada.
Tingkah laku itu dievaluasi menurut kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan realitas yang ada.
Dalam pendekatan ini, konselor
dalam hal ini guru BK bertindak aktif, direktif, dan didaktik. Dalam konteks
ini, konselor berperan sebagai guru dan sebagai model bagi klien dalam hal ini
peserta didik. Disamping itu, guru BK juga membuat kontrak dengan klien untuk
mengubah perilakunya. Ciri yang sangat khas dari pendekatan ini adalah tidak
terpaku pada kejadian-kejadian di masa lalu, tetapi lebih mendorong klien untuk
menghadapi realitas. Pendekatan ini juga tidak memberi perhatian pada
motif-motif bawah sadar sebagaimana pandangan kaum psikoanalis. Akan tetapi,
lebih menekankan pada pengubahan tingkah laku yang lebih bertanggung jawab dengan merencanakan dan melakukan
tindakan-tindakan tersebut.
B.
Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui tentang Sejarah
Perkembangan Pendekatan Realistis,
Ciri-Ciri Pendekatan Realistis, kebutuhan-kebutuhan dasar
psikologis manusia, Konsep Dasar,
Teori Kontrol, Konsep 3R, Proses Konseling, Tahap-Tahap Konseling, Tujuan
Konseling, serta Peran dan Fungsi Konselor dalam pendekatan realitas.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Perkembangan Pendekatan Realistis
William Glasser
merupakan lulusan dari the Case Institute
of Technology sebagai Insinyur kimia pada tahun 1944 di usia 19 tahun,
kemudian ia mengambil master di bidang Psikologi Klinis pada usia 23 tahun di
Universitas yang sama. Pada tahun 1956 ia menjadi kepala bagian psikiatri di the Ventura School of Girls yang
merupakan institusi untuk menangani kenakalan remaja perempuan. Pada saat
inilah Glasser mengembangkan konsep pendekatan realistis. Melalui buku
pertamanya yang berjudu “Mental Health or
Mental Illmess” (1961) ia menuangkan landasan pemikirannya mengenai
landasan berfikir dari teknik dan konsep dasar terapi realitas.
Glasser menggunakan istilah Reality therapy pada tahun 1964 pada
manuskrip yang berjudul “Reality Therapy:
A Realistic Approach to the Young Offender”. Pada tahun 1968 Glasser
mendirikan the Institute for Reality
Therapy di Los Angeles.
B.
Ciri-Ciri Pendekatan
Realistis
Ada 8 ciri yang menentukan
pendekatan realitas sebagai berikut :
1. Terapi realitas menolak tentang
penyakit mental. Ia berasumsi bahwa bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang
spesifik adalah akibat dari ketidak bertanggung jawaban.
2. Pendekatan ini tidak berurusan
dengan diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan
tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan mempersamakan kesehatan mental
dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.
3. Terapi realitas berfokus pada
tingkah laku sekarang alih-alih pada perasaan-perasaan dan sikap-sikap.
Meskipun tidak menganggap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu tidak penting,
tetapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang.
4. Terapi realitas menekankan
pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok
kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri
dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Terapi ini
beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku
dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan
destruktifnya.
5. Terapi realitas tidak menekankan transferensi.
Ia tidak memandang konsep tradisional tentang transferensi sebagai hal yang
penting. Ia memandang transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap
bersembunyi sebagai pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis
menempuh cara beradanya yang sejati, yakni bahwa mereka menjadi diri sendiri,
tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibu klien.
6. Terapi realitas menekankan
aspek-aspek kesadaran, bukan aspek-aspek ketaksadaran. Teori psikoanalitik, yang berasumsi bahwa pemahaman
dan kesadaran atas proses-proses ketaksadaran sebagai suatu prasyarat bagi
perubahan kepribadian, menekankan pengungkapan konflik-konflik tak sadar
melalui teknik-teknik seperti analisis transferensi, analisis mimpi,
asosiasi-asosiasi bebas, dan analisis resistensi. Sebaliknya, terapi realitas
menekankan kekeliruan yang dilakukan oleh klien, bagaimana tingkah laku klien
sekarang hingga dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, dan bagaimana dia
bisa terlibat dalam suatu rencana bagi tingkah laku yang berhasil yang
berlandaskan tingkah laku yang bertanggung jawab dan realistis.
7. Terapi
realitas menhapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna
mengubah tingkah laku tidak efektif dan bahwa hukuman untuk kegagalan
melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada
klien dan perusakan hubungan terapiutik.
8.
Terapi realitas menekankan tanggng jawab, yang oleh Glasser(1965, hlm 13)
didefinisikan sebagai “kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuha sendiri dan
melakukannya dengan cara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan mereka”. Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup.
C.
Pandangan
Tentang Manusia
Glasser percaya bahwa setiap
manusia memiliki kebutuhan psikologis yang secara konstan (terus-menerus) hadir
sepanjang rentang kehidupannya dan harus dipenuhi. Ketika seseorang mengalami
masalah, hal tersebut disebabkan oleh satu faktor, yaitu terhambatnya seseorang dalam memenuhi kebutuhan
psikologisnya. Keterhambatan tersebut pada dasarnya karena penyangkalan
terhadap realita, yaitu kecenderungan seseorang untuk menghindari hal-hal yang
tidak menyenangkan. Mengacu pada teori hirarki kebutuhan yang dikemukakan oleh
Maslow, Glasser mendasari pandangannya tentang kebutuhan manusia untuk dicintai
dan mencintai, dan kebutuhan untuk merasa berharga bagi orang lain.
Secara rinci, Glasser menjelaskan
kebutuhan-kebutuhan dasar psikologis manusia, yang meliputi:
a. Cinta
(Beloging/Love)
Salah satu kebutuhan psikologis
manusia adalah kebutuhannya untuk merasa memiliki dan terlibat atau melibatkan
diri dengan orang lain. kebutuhan ini disebut Glasser sebagai Identity Society, yang menekankan
pentingnya hubungan personal. Beberapa aktivitas yang menunjukkan kebutuhan ini
antara lain: persahabatan, acara perkumpulan tertentu, dan keterlibatan dalam
organisasi kemahasiswaan. Kebutuhan ini oleh Glasser dibagi dalam tiga bentuk: Social beloging, work beloging dan family beloging.
b. Kekuasaan
(Power)
Kebutuhan atas kekuasaan meliputi
kebutuhan untuk berprestasi, merasa berharga, dan mendapatkan pengakuan.
Kebutuhan ini biasanya diekspresikan melalui kompetisi dengan orang-orang
disekitar kita, memimpin, mengorganisir, meyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin,
menjadi tempat bertanya atau meminta pendapat bagi orang lain, melontarkan ide
atau gagasan dan sebagainya.
c. Kesenangan
(Fun)
Merupakan kebutuhan untuk merasa
senang, bahagia. Pada anak-anak, terlihat dalam aktifitas bermain. Kebutuhan
ini muncul sejak dini, kemudian terus berkembang hingga dewasa. Misalnya,
berlibur untuk menghilangkan kepenatan, bersantai, melucu, humor, dan sebagainya.
d. Kebebasan
(Freedom)
Kebebasan merupakan kebutuhan untuk
merasakan kebebasan atau kemerdekaan dan tidak bergantung pada orang lain,
misalnya membuat pilihan, memutuskan akan melanjutkan studi pada jurusan apa,
bergerak, dan berpindah dari satu tempat ketempat lain. kebutuhan-kebutuhan
tersebut bersifat universal, tetapi dipenuhi dengan cara yang unik oleh
masing-masing manusia. Glasser memiliki pandangan yang optimis tentang
kemampuan dasar manusia, yaitu kemampuan untuk belajar memenuhi kebutuhannya
dan menjadi orang yang bertanggung jawab. Tingkah laku yang bertanggung jawab
merupakan upaya manusia mengontrol lingkungan untuk memenuhi kebutuhan dan
menghadapi realita yang dialami dalam kehidupannya.
Ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya, menurut Glasser
orang tersebut mencapai identitas sukses. Ini terkait dengan konsep
perkembangan kepribadian yang sehat, yang ditandai dengan berfungsinya individu
dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya secara tepat (Hansen, Warner, dan
Smith).
Dalam proses pembentukan identitas, individu mengembangkan
keterlibatan secara emosional dengan orang lain. Individu perlu merasakan bahwa orang
lain memberi perhatian kepadanya dan berpikir bahwa dirinya memiliki arti.
Proses ini berlangsung sejak bayi. Bagi anak-anak, interaksi dengan orang tua
(ibu) atau orang dewasa lain, membuat anak belajar merasakan keterlibatan orang
lain, kedekatan, kehangatan psikologis, dan ikatan emosional. Dari pengalaman
tersebut, anak belajar bagaimana menerima dan memberi kasih sayang, dan belajar
bahwa dirinya memiliki arti bagi orang lain dan orang lain juga berarti bagi
dirinya.
Bila sejak kecil anak tidak
merasakan bagaimana menerima dan memberi kasih sayang, pada tahap kehidupan
berikutnya, ia mengalami kesulitan dalam mencintai, memberi kasih sayang atau
belajar bagaimana ia berarti bagi dirinya juga bagi orang lain. jika kebutuhan
psikologisnya sejak awal tidak terpenuhi, maka seseorang tidak mendapatkan
pengalaman belajar bagaimana memenuhi kebutuhan psikologisnya atau orang lain.
belajar bagaimana bertingkah laku yang bertanggung jawab merupakan hal yang
sangat penting bagi perkembangan anak untuk mencapai “identitas sukses”. Anak
memperolehnya dengan dengan terlibat pada berbagai aktivitas yang memenuhi
kebutuhannya melalui interaksi dengan orang tua yang bertanggung jawab, yaitu
yang menunjukkan keterlibatan dalam pengasuhan anaknya dengan menjadi model,
melatih kedisiplinan, dan mencintai, dan sebagainya.
Dapat dirumuskan Glasser tentang
manusia adalah sebagai berikut:
1. Setiap
individu bertanggung jawab terhadap kehidupannya.
2. Tingkah
laku seseorang merupakan upaya mengontrol lingkungan untuk memenuhi
kebutuhannya.
3. Individu
ditantang untuk mengahadapi realita tanpa memperdulikan kejadian-kejadian di
masa lalu, serta tidak memberi perhatian pada sikap dan motivasi di bawah
sadar.
4. Setiap
orang memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu pada masa kini.
D.
Konsep
Dasar
Pada dasarnya setiap individu
terdorong untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya, masing-masing individu juga memiliki kebutuhan yang
beragam, dimana kebutuhan tersebut bersifat unik pada
masing-masing individu,
dan tentu saja keinginan atau kebutuhan tersebut terkadang berbeda dengan
individu yang lain.
Ketika seseorang dapat memenuhi apa yang diinginkan, kebutuhan
tersebut terpuaskan dan tentu
saja ia akan merasa senang. Tetapi, jika apa yang diperolehnya
tidak sesuai dengan apa yang diinginkan dan sangat
bertolak belakang dari apa yang dibutuhkan, maka orang tersebut akan frustasi, dan pada
akhirnya akan terus memunculkan perilaku baru sampai keinginannya terpuaskan dan merasa benar-benar terpenuhi.
Artinya, ketika timbul perbedaan antara apa
yang diinginkan dengan apa yang diperoleh, membuat individu terus memunculkan perilaku-perilaku yang spesifik, yang membuatnya terlihat berbeda dengan yang lain.
Jadi, perilaku yang dimunculkan oleh masing-masing individu ada
tujuannya,
yaitu dibentuk untuk mengatasi hambatan antara apa yang diinginkan dengan apa
yang diperoleh, atau muncul karena dipilih dan diinginkan sendiri oleh individu.
Perilaku manusia merupakan perilaku total (total behavior), atau perilaku sepenuhnya yang terdiri
dari doing (melakukan), thinking
(berpikir),
feeling (Merasakan)
dan psysiology (fisiologis).
Oleh karena perilaku yang
dimunculkan adalah perilaku
yang bertujuan
dan dipilih sendiri, maka Glasser menyebutnya dengan teori kontrol.
E.
Teori
Kontrol
Penerimaan terhadap realita,
menurut Glasser harus tercermin dalam perilaku total yang mengandung empat
komponen, yaitu: berbuat (doing),
berfikir (thinking), merasakan (feeling), dan menunjukkan respon-respon fisiologis (physiology). Seperti halnya keempat roda
mobil membawa arah mobil berjalan, demikian halnya keempat komponen dari total behavior tersebut menetapkan arah
hidup individu.
Glasser menjelaskan bahwa hal ini secara langsung dapat mengubah cara kita merasakan terpisah
dari apa yang kita lakukan dan pikirkan, merupakan hal yang sangat sulit
dilakukan. Kunci
untuk mengubah perilaku total terletak pada pemilihan untuk mengubah apa yang
kita lakukan dan pikirkan. Sementara itu, reaksi dan respon fisiologis termasuk
dalam proses tersebut.
Ketika seseorang berhasil memenuhi
kebutuhannya, menurut Glasser orang tersebut mencapai identitas sukses.
Pencapaian identitas sukses itu terikat pada konsep 3R, yaitu keadaan dimana
individu dapat menerima kondisi yang dihadapinya, dicapai dengan menunjukkan total behavior (perilaku total) yakni
melakukan sesuatu, berfikir, merasakan, dan menunjukkan respon-respon
fisiologis secara bertanggung jawab, sesuai realita, dan benar.
F.
Konsep
3R
Dalam Bassin (1976:83-85) Glasser menggambarkan
konsep ini sebagai berikut:
a. Responsibility
(tanggung jawab)
Kemampuan individu untuk memnuhi
kebutuhannya tanpa harus merugikan orang lain.
b. Reality
(kenyataan)
Kemampuan yang akan menjadi
tantangan bagi individu untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap individu harus
memenuhi bahwa ada dunia nyata, dimana mereka harus memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dalam rangka mengatasi masalahnya. Realita yang dimaksud
adalah sesuatu yang tersusun dari kenyataan yang ada dan apa adanya.
c. Right
(kebenaran)
Merupakan
ukuran atau norma-norma yang diterima secara umum, sehingga tingkah laku dapat
diperbandingkan. Individu yang melakukan hal ini mampu mengevaluasi diri dan
sendiri bila melakukan sesuatu melalui perbandingan tersebut dan ia merasa
nyaman bila mampu bertingkah laku dalam tata cara yang diterima secara umum.
G.
Proses
Konseling
Pendekatan ini melihat konseling
sebagai proses rasional yang menekankan pada perilaku sekarang dan saat ini.
Artinya, klien ditekankan untuk melihat perilaku yang dapat diamati dari pada
motif-motif bawah sadarnya.
Dengan demikian klien dapat
menyadari serta mengevaluasi apakah perilakunya tersebut cukup efektif dalam
memnuhi kebutuhannya atau tidak. Jika dirasa perilaku-perilaku yang ditampilkan
tidak membuat klien merasa puas, maka konselor mengarahkan klien/konseli untuk
melihat peluang-peluang yang dapat dilakukan dengan merencanakan tindakan yang
lebih bertanggung jawab. Perilaku yang bertanggung jawab merupakan perilaku-perilaku
yang sesuai dengan kenyataan yang dihadapi, oleh Glasser disebut penerimaan
terhadap realita. Dengan demikian dapat konseli menyelesaikan tekanan-tekanan
dan permasalahan yang dialaminya.
Menurut Glasser, hal-hal yang
membawa perubahan sikap dari penolakan ke penerimaan realitas yang terjadi
selama proses konseling adalah:
1. Konseli
dapat mengeksplorasi keinginan, kebutuhan, dan apa yang dipersepsikan tentang
kondisi yang dihadapinya. Di sini klien/konseli terdorong untuk mengenali dan mendefinisikan
apa yang mereka inginkan untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah apa yang
diinginkan, konseli lalu mengevaluasi apakan yang ia lakukan ini memenuhi
kebutuhan-kebutuhan tersebut.
2. Konseli
fokus pada perilaku sekarang tanpa terpaku pada permasalahan masa lalu. Tahap ini
merupakan kesadaran konseli untuk memahami bahwa kondisi yang dialaminya
bukanlah hal yang bisa dipungkiri. Kemudia mereka mulai menentukan alternatif
apa yang harus dilakukan. Dimana klien dituntut untuk mengubah perilaku secaara
total, tidak hanya sikap dan perasaan, namun juga pikiran dan tindakan mereka.
3. Konseli/klien
diharapkan mampu untuk mengevaluasi perilakunya, merupakan kondisi dimana ia
harus membuat penilaian tentang apa yang telah ia lakukan terhadap dirinya
berdasarkan sistem nilai yang berlaku dimasyarakat. Apakah yang dilakukan dapat
menolong dirinya atau sebaliknya, apakah realistis atau dapat dipercaya.
4. Konseli
mulai merencanakan perubahan yang dikehendakinya dan komitmen terhadap apa yang
telah direncanakan. Rencana-rencana yang ditetapkan harus sesuai dengan
kemampuan klien/konseli, bersifat konkrit atau jelas pada bagian mana dari
perilakunya sendiri yang akan diubah, realistis dan melibatkan perbuatan
positif. Rencana itu juga harus dilakukan dengan segera dan berkesinambungan.
H.
Tahap-tahap
Konseling
Proses konseling dalam pendekatan
realistis berpedoman pada dua unsur utama yaitu penciptaan kondisi lingkungan
yang kondusif dan beberapa prosedur yang menjadi pedoman untuk mendorong
terjadinya perubahan pada klien/konseli. Secara praktis, Thompson, et. Al.
Mengemukakan delapan tahap dalam konseling realita:
1. Konselor
menunjukkan keterlibatan dengan konseli (be
friend)
Pada tahap ini, konselor mengawali pertemuan dengan
bersikap otentik, hangat, dan menaruh perhatian pada hubungan yang sedang
dibangun. Konselor harus dapat melibatkan diri pada konseli dengan
memperlihatkan sikap hangat dan ramah. Dengan demikian konseli akan terbuka dan
bersedia menjalani proses konseling jika ia merasakan konselor/guru Bknya
terlibat, bersahabat, dan dapat dipercaya.
Konselor juga perlu menunjukkan bahwa ia bertekad
membantu konseli. Koinseling realistis selalu berpedoman bahwa perilaku total (total behavior) hampir selalu dipilih.
Karenanya, tingkah laku yang lebih efisien dan lebih membantu diperlukan bagi
konseli yang sedang menghadapi masalah.
2. Fokus
Pada Perilaku Sekarang
Setelah konseli dapat melibatkan diri kepada
konselor, maka konselor menanyakan kepada konseli apa yang akan dilakukannya
sekarang. Tahap kedua ini merupakan eksplorasi diri bagi konseli. Konseli
mengungkapkan ketidaknyamanan yang ia rasakan dalam menghadapi permasalahannya.
Lalu konselor meminta konseli mendeskripsikan hal-hal apa saja yang telah
dilakukan dalam menghadapi kondisi tersebut.
Secara rinci, tahap ini meliputi:
a) Eksplorasi
“picture album” (keinginan),
kebutuhan, dan persepsi
b) Menanyakan
keinginan-keinginan konseli
c) Menanyakan
apa yang benar-benar diinginkan konseli
d) Menanyakan
apa yang terpikir oleh konseli tentang apa yang diinginkan orang lain dari
dirinya dan menanyakan bagaian konseli melihat hal tersebut
Pada tahap kedua ini juga konselor perlu mengatakan
kepada konseli apa yang dapar dilakukan konselor, yang diinginkan konselor dari
konseli, dan bagaimana konselor melihat situasi tersebut, kemudian membuat
komitmen untuk konseling.
3. mengeksplorasi
total behavior konseli
Menanyakan apa yang dilakukan konseli (doing),
yaitu: konselor menanyakan secara spesivik apa saja yang dilakukan konseli,
cara pandang dalam konseling Realita, akar permasalahan konseli bersumber pada
perilakunya (doing), bukan pada perasaannya. Misal, konseli mengungkapkan
setiap kali menghadapi ujian ia mengalami kecemasan yang luar biasa. Dalam
pandangan Konseling Realita, yang harus diatasi bukan kecemasan konseli, tapi
hal-hal apa saja yang telah dilakukannya untuk menghadapi ujian.
4. Konseli
Menilai Diri Sendiri atau Melakukan Evaluasi
Memasuki tahap keempat, konselor menanyakan kepada
konseli apakah pilihan perilakunya itu didasari oleh keyakinan bahwa hal itu
baik baginya. Fungsi konselor tidak untuk menilai benar atau salah perilaku
konseli, tapi membimbing konseli untuk menilai perilakunya saat ini. Beri
kesempatan kepada konseli untuk mengevaluasi, apakah ia cukup terbantu dengan
pilihannya tersebut.
5. Merencanakan
Tindakan yang Bertanggungjawab
Tahap ketika konseli mulai menyadari bahwa
perilakunya tidak menyelesaikan masalah, dan tidak cukup menolong keadaan
dirinya, dilanjutkan dengan membuat perencanaan tindakan yang lebih
bertanggungjawab. Rencana yang disusun sifatnya spesifik dan konkret.
Ha-hal apa yang akan dilakukan konseli
untuk keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinaya.
6. Membuat
Komitmen
Konselor mendorong konseli untuk merealisasikan
rencana yang telah disusunnya bersama konselor sesuai dengan jangka waktu yang
ditetapkan.
7.
Tidak Menerima
Permintaan Maaf atau Alasan Konseli
Konseli akan bertemu kembali dengan konselor pada
batas waktu yang telah disepakati bersama. Pada tahap ini konselor menanyakan
perkembangan perubahan perilaku konseli.
Apabila konseli tidak atau belum berhasil melakukan
apa yang telah direncanakannya, permintaan maaf konseli atas kegagalannya tidak
untuk dipenuhi konselor. Sebaliknya, konselor mengajak konseli untuk melihat
kembali rencana tersebut dan mengevaluasinya mengapa konseli tidak berhasil.
Konselor selanjutnya membantu konseli merencanakan kembali hal-hal yang belum
berhasil ia lakukan.
Pada tahap ini sebaiknya konselor menghindari
pertanyaan dengan kata “mengapa” sebab kecendrungannya konseli akan bersikap
defensif dan mencari alasan.
Konselor
juga tidak memberikan hukuman, mengkritik, dan berdebat, tetapi adapkan konseli
dengan konsekuensi, menurut Gleser, memberikan hukuman akan mengurangi
keterlibatan konseli dan menyebabkan ia merasa lebih gagal.
8.
Tindak Lanjut
Merupakan tahap terakhir dalam konseling. Konselor
dan konseling mengevaluasi perkembangan yang dicapai, konseling dapat berakhir
atau dilanjutkan jika tujuan yang telah ditetapkan belum dicapai.
I.
Tujuan
Konseling
Layanan konseling ini bertujuan
menbantu konseli mencapai identitas berhasil. Konseli yang mengetahui identitasnya, akan mengetahui
langkah-langkah yang akan ia lakukan dimasa yang akan lakukan dimasa yang akan
datang dengan segala konsekuensinya. Bersama-sama konselor, konseli dihadapkan
kembali pada kenyataan hidup. Sehingga dapat memahami dan mampu menghadapi
realitas.
J.
Peran dan Fungsi Konselor
Fungsi konselor dalam pendekatan
realitas adalah melibatkan diri dengan konseli, bersikap direktif dan ditaktif,
yaitu berperan seperti guru yang mengarahkan dan dapat saja mengkonfrontasi,
sehingga konseli mampu menghadapi kenyataan. Di sini, terapis sebagai
fasilitataor yang membantu. konseli agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri
secara realistis.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendekatan
Realitas adalah suatu standar atau patokan obyektif,
yang menjadi kenyataan atau realitas yang harus diterima. Realitas atau kenyataan itu dapat
berwujud suatu realitas praktis, realitas sosial, atau realitas moral. Yang paling sering disoroti pada
seseorang adalah tingkah lakunya yang nyata. Tingkah laku itu dievaluasi
menurut kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan realitas yang ada, dengan menitikberatkan tanggung
jawab yang dipikul setiap orang untuk berprilaku sesuai dengan realitas yang
dihadapi.
B. Saran
Bertanggung jawab merupakan hasil
dari aneka usaha belajar memenuhi kebutuhan kitadalam realita hidup, yang menghadapkan kita pada norma-norma realitas, adat istiadat sosial, nilai-nilai kehidupan, serta
pembatasan gerak-gerik yang lain. Oleh karena itu janganlah kita
memiliki keinginan bertindak
sesuka hati, hendaklah kita
menunjukkan tingkah laku yang tepat dan menghindari tingkah laku yang salah. Tugas kita sebagai seorang konselor hendaklah membantu dalam proses konseling untuk menilai
tingkah laku klien
dari sudut bertindak secara bertanggung jawab. Dengan demikian, proses
konseling akan menjadi
pengalaman belajar menilai diri sendiri dan, dimana perlu, menggantikan tingkah
laku yang keliru dengan tingkah laku yang tepat.
ΓΌ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar