BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam rentang kehidupan manusia, terjadi
banyak pertumbuhan dan perkembangan dari mulai lahir sampai dengan meninggal
dunia. Dari semua fase yang tersebut, salah satu yang paling penting dan paling
menjadi pusat perhatian adalah masa remaja. Para orang tua, pendidik dan para
tenaga profesional lainnya mencoba untuk menerangkan dan melakukan pendekatan
yang efektif untuk menangani para remaja ini.
Masa remaja yang dimaksudkan merupakan periode transisi antara
masa anak-anak menuju masa dewasa. Secara umum dapat dikatakan bahwa masa
remaja berawal dari usia 12 sampai dengan akhir usia belasan ketika pertumbuhan
fisik hampir lengkap.
Salah satu pakar psikologi perkembangan Elizabeth B. Hurlock (1980)
menyatakan bahwa masa
remaja ini dimulai pada saat anak mulai matang secara seksual dan berakhir pada saat ia mencapai usia dewasa secara hukum. Masa remaja terbagi menjadi dua yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. Masa remaja awal dimulai pada saat anak-anak mulai matang secara seksual yaitu pada usia 13 sampai dengan 17 tahun, sedangkan masa remaja akhir meliputi periode setelahnya sampai dengan 18 tahun, yaitu usia dimana seseorang dinyatakan dewasa secara hukum.
remaja ini dimulai pada saat anak mulai matang secara seksual dan berakhir pada saat ia mencapai usia dewasa secara hukum. Masa remaja terbagi menjadi dua yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. Masa remaja awal dimulai pada saat anak-anak mulai matang secara seksual yaitu pada usia 13 sampai dengan 17 tahun, sedangkan masa remaja akhir meliputi periode setelahnya sampai dengan 18 tahun, yaitu usia dimana seseorang dinyatakan dewasa secara hukum.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah yanng dimaksud dengan masa remaja?
2.
Apakah yang dimaksud dengan periode pueral?
3.
Bagaimana ciri khas anak puer dan
karakteristik remaja?
4.
Apa saja masalah identifikasi anak puer?
C. Tujuan
Dengan mempelajari materi ini nantinya, kita diharapkan mampu
untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana sebenarnya masa puber itu. Dan
apa saja yang terjadi pada masa-masa ini, serta apa saja permasalahan yang
umumnya sering dihadapi oleh para remaja.
Melalui makalah ini, akan disampaikan sesederhana mungkin
bagaimana hal tersebut diatas. Termasuk kita juga akan membahasa masa pueral,
dimana pada masa ini merupakan masa remaja awal.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Masa Remaja
Masa remaja juga disebut masa-penghunung atau masa-peralihan
antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa.
Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai
kematangan fungsi-fungsi rokhaniah dan jasmaniah, terutama fungsi seksual. Yang sangat menonjol dari fungsi ini adalah:
“kesadaran yang mendalam mengenai diri sendiri, dengan mana anak muda mulai
meyakini kemauan, potensi dan cita-cita sendiri. Dengan kesadaran tersebut ia berusaha
menemukan jalan hidupnya; dan mulai mencari nilai-nilai tertentu, seperti
kebaikan, keluhuran, kebijaksanaan, keindahan dan sebagainya.”
Pada periode ini terdapat kematangan fungsi jasmaniah yang
biologis, berupa: kematangan kelenjar kelamin; yaitu testes (buah zakar,
kelepir) untuk anak laki-laki; ovarium atau indung telur pada anak perempuan.
Keduanya merupakan tanda-tanda kelamin primer.
Sebelumnya, peristiwa ini didahului oleh tanda-tanda kelamin sekunder,
yang secara kronologis mendahului ciri-ciri primer. Antara lainnya ciri
sekunder itu adalah berupa gangguan-gangguan peredaran darah, sering
berdebar-debar, menggigil, pertumbuhan rambut pada alat kelamin, ketiak, kumis,
cambang, dan perubahan suara. Disamping itu pada anak perempuan akan terjadi
perluasan dada dan tumbuhnya payudara; juga menebalnya lapisan lemak disekitar
pinggul, paha dan perut.
Menurut beberapa ahli medis, percepatan pertumbuhan jasmaniah
tersebut menyebabkan sedikit melemahnya fungsi rokhaniah. Peristiwa ini disebut
sebagai “astheni fungsonal”.
Masa remaja atau masa pubertas bisa dibagi dalam empat fase,
yaitu:
1. Masa awal
pubertas, disebut pula sebagai masa pueral atau pra-pubertas.
2. Masa-menentang
kedua, fase negatif, trotzalter kedua, periode verneinung.
3. Masa
pubertas sebenarnya, mulai 14 tahun.
Masa pubertas anak wanita pada umumnya berlangsung lebih awal daripada
anak laki-laki.
4. Masa
adolesensi, mulai usia 17 tahun sampai sekitar 19-21 tahun.
B. Periode Pueral (Pra-Pubertas atau Pubertas
Awal)
Masa pueral atau pra-pubertas ini
ditandai oleh berkembangnya tenaga fisik yang melimpah. Keadaan tersebut
menyebabkan tingkah laku anak kelihatan kasar, canggung, brandalan, kurang
sopan, liar dan lain-lain. Pada masa ini pertumbuhan jasmaniah sangat pesat.
Anak jadi cepat besar, bobot, badannya naik dengan pesat dan tubuhnya bertambah
panjang. Makannya banyak sekali, terutama anak laki-laki dan aktivitasnya
meningkat.
Bersamaan dengan hal di atas, maka
turut berkembang pula tingkat intelektualitas yang sangat intensif; sehingga
minat anak pada dunia luar sangat besar. Perkembangan intelektual ini
membangunkan macam-macam fungsi psikis dan rasa ingin tahu rokhaniah
(psychological curiosity); sehingga tumbuh dorongan yang kuat untuk mencari
ilmu dan pengalaman baru.
Peningkatan aktivitas ini berarti peningkatan agresivitas anak;
akan tetapi merupakan:
1. Proses
intensifikasi dari daya-adaptasi anak terhadap realitas dunia,
2. Merupakan
usaha untuk lebih menguasai lingkungannya, dan mengatasi kesulitan-kesulitan
hidup.
Semua kegiatan itu dimungkinkan oleh adanya prinsip perkembangan
yang aktif-dinamis pada anak. Sumber semua aktivitas tersebut ialah:
1. Dorongan
tumbuh tau kemampuan-menjadi, dan
2. Dorongan
mandiri (dorongan berdiri sendiri)
C. Ciri-Ciri Khas Anak Puer
Ciri paling menonjol pada usia ini adalah rasa harga diri yang
makin menguat. Tidak ada periode
kehidupan yang secara psikis begitu positif kuat daripada periode pueral. energi
yang keluar berlimpah-limpah memanifestasikan diri dalam bentuk keberanian,
keriangan, kericuhan, perkelahian-perkelahian dan olok-olok atau saling
mengganggu. Pada anak perempuan gejalanya tidak begitu “panas” seperti anak
laki-laki. Biasanya ditampilkan dengan sikap yang ketus, cerewet dan tertawa
“ngikik-ngikik” tanpa sebab yang penting.
Aktivitas anak hampir seluruhnya diarahkan keluar, dan ditampilkan
dalam macam-macam prestasi. Anak puer ini mempunyai keinginan yang
menggebu-gebu untuk menarik perhatian orang lain pada dirinya; juga timbul
dorongan kuat untuk menguasai anak lain. Ada hasrat untuk berprestasi tinggi,
melebihi anak lain. Dia merasa mampu melakukan apapun juga, sehingga condong
melebih-lebihkan kemampuan diri sendiri.
Ciri khas anak puer ini adalah: paling
suka bermulut besar, “ngibul’, menyombongkan diri, beraksi/berlagak dan
sesumbar, memamerkan kekuatan sendiri. Anak-anak gadis juga ingin menonjolkan
dirinya dengan cara: menjadi “centil”, kenes, cerewet, ketus, sombong, banyak
lagak, suka memakai baju-baju yang bagus atau eksklusif, memakai macam-macam
perhiasan; dan menyukaipotongan rambut yang paling terakhir. Semua ini
ditujukan untuk menarik perhatian orang lain dan didorong oleh tuntutan
pengakuan egonya.
D. Karakteristik Masa Remaja
Sebagai periode yang paling penting, masa remaja ini memiliki
karakterisitik yang khas jika dibanding dengan periode-periode perkembangan
lainnya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :
a. Masa
remaja adalah periode yang penting
Periode ini dianggap sebagai masa penting karena memiliki dampak
langsung dan dampak jangka panjang dari apa yang terjadi pada masa ini. Selain
itu, periode ini pun memiliki dampak penting terhadap perkembangan fisik dan
psikologis individu, dimana terjadi perkembangan fisik dan psikologis yang
cepat dan penting. Kondisi inilah yang menuntut individu untuk bisa
menyesuaikan diri secara mental dan melihat pentingnya menetapkan suatu sikap,
nilai-nilai dan minta yang baru.
b. Masa
remaja adalah masa peralihan
Periode ini menuntut seorang anak untuk meninggalkan sifat-sifat
kekanakkanakannya dan harus mempelajari pola-pola perilaku dan sikap-sikap baru
untuk menggantikan dan meninggalkan pola-pola perilaku sebelumnya. Selama
peralihan dalam periode ini, seringkali seseorang merasa bingung dan tidak
jelas mengani peran yang dituntut oleh lingkungan. Misalnya, pada saat individu
menampilkan perilaku anak-anak maka mereka akan diminta untuk berperilaku
sesuai dengan usianya, namun pada kebalikannya jika individu mencoba untuk
berperilaku seperti orang dewasa sering dikatakan bahwa mereka berperilaku
terlalu dewasa untuk usianya.
c. Masa
remaja adalah periode perubahan
Perubahan yang terjadi pada periode ini berlangsung secara cepat,
peubahan fisik yang cepat membawa konsekuensi terjadinya perubahan sikap dan
perilaku yang juga cepat. Terdapat lima karakteristik perubahan yang khas dalam
periode ini yaitu, (1) peningkatan emosionalitas, (2) perubahan cepat yang
menyertai kematangan seksual, (3) perubahan tubuh, minat dan peran yang
dituntut oleh lingkungan yang menimbulkan masalah baru, (4) karena perubahan
minat dan pola perilaku maka terjadi pula perubahan nilai, dan (5) kebanyakan
remaja merasa ambivalent terhadap perubahan yang terjadi.
d. Masa
remaja adalah usia bermasalah
Pada periode ini membawa masalah yang sulit untuk ditangani baik
bagi anak laki-laki maupun perempuan. Hal ini disebabkan oleh dua lasan yaitu :
pertama, pada saat anak-anak paling tidak sebagian masalah diselesaikan oleh
orang tua atau guru, sedangkan sekarang individu dituntut untuk bisa
menyelesaikan masalahnya sendiri. Kedua, karena mereka dituntut untuk mandiri
maka seringkali menolak untuk dibantu oleh orang tua atau guru, sehingga
menimbulkan kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
e. Masa
remaja adalah masa pencarian identitas diri
Pada periode ini, konformitas terhadap kelompok sebaya memiliki
peran penting bagi remaja. Mereka mencoba mencari identitas diri dengan
berpakaian, berbicara dan berperilaku sebisa mungkin sama dengan kelompoknya.
Salah satu cara remaja untuk meyakinkan dirinya yaitu dengan menggunakan simbol
status, seperti mobil, pakaian dan benda-benda lainnya yang dapat dilihat oleh
orang lain.
f.
Masa remaja adalah usia yang ditakutkan
Masa remaja ini seringkali ditakuti oleh individu itu sendiri dan
lingkungan. Gambaran-gambaran negatif yang ada dibenak masyarakat mengenai
perilaku remaja mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan remaja. Hal ini
membuat para remaja itu sendiri merasa takut untuk menjalankan perannya dan
enggan meminta bantuan orang tua atau pun guru untuk memecahkan masalahnya.
g. Masa
remaja adalah masa yang tidak realistis
Remaja memiliki kecenderungan untuk melihat hidup secara kurang
realistis mereka memandang dirinya dan orang lain sebagaimana mereka inginkan
dan bukannya sebagai dia sendiri. Hal ini terutama terlihat pada aspirasinya,
aspiriasi yang tidak realitis ini tidak sekedar untuk dirinya sendiri namun
bagi keluarga, teman. Semakin tidak realistis aspirasi mereka maka akan semakin
marah dan kecewa apabila aspirasi tersebut tidak dapat mereka capai.
h. Masa
remaja adalah ambang dari masa dewasa
Pada saat remaja mendekati masa dimana mereka dianggap dewasa
secara hukum, mereka merasa cemas dengan stereotype remaja dan menciptakan
impresi bahwa mereka mendekati dewasa. Mereka merasa bahwa berpakaian dan
berperilaku seperti orang dewasa sringkali tidak cukup, sehingga mereka mulai
untuk memperhatikan perilaku atau simbol yang berhubungan dengan status orang
dewasa seperti merokok, minum, menggunakan obat-obatan bahkan melakukan
hubungan seksual.
E. Tugas
Perkembangan Masa Remaja
Semua tugas-tugas perkembangan masa remaja terfokus pada bagaimana
melalui sikap dan pola perilaku kanak-kanak dan mempersipakan sikap dan
perilaku orang dewasa. Rincian tugas-tugas pada masa remaja ini adalah sebagai
berikut :
1.
Mencapai relasi yang lebih matang dengan teman seusia dari kedua jeniskelamin
2.
Mencapai peran sosial feminin atau maskulin
3.
Menerima fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif
4.
Meminta, menerima dan mencapai perilaku bertanggung jawab secara sosial
5.
Mencapai kemandirian secara emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
6.
Mempersiapkan untuk karir ekonomi
7.
Memperiapkan untuk menikah dan berkeluarga
8.
Memperoleh suatu set nilai dan sistem etis untuk mengarahkan perilaku.
F.
Masalah-masalah remaja
Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas
tersebut dengan baik. Menurut
Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi
tugas-tugas tersebut, yaitu:
- Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
- Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orang tua.
Bellak (dalam Fuhrmann, 1990) secara khusus
membahas pengaruh tekanan media terhadap perkembangan remaja. Menurutnya,
remaja masa kini dihadapkan pada lingkungan dimana segala sesuatu berubah
sangat cepat. Mereka dibanjiri oleh informasi yang terlalu banyak dan terlalu
cepat untuk diserap dan dimengerti. Semuanya terus bertumpuk hingga mencapai
apa yang disebut information overload. Akibatnya timbul perasaan terasing,
keputusasaan, absurditas, problem identitas dan masalah-masalah yang
berhubungan dengan benturan budaya.
Selain
menurut para ahli di atas, terdapat beberapa aspek yang bisa menyebabkan
seorang anak khususnya pada masa remaja. Antara lain diantaranya dari beberapa
segi atau aspek ruang lingkupnya, diantaranya:
A.
Kondisi Keluarga
kondisi keluarga yang merupakan sumber stres pada anak dan remaja,
yaitu:
a.
Hubungan buruk atau dingin antara ayah dan ibu
b.
Terdapatnya gangguan fisik atau mental dalam
keluarga
c.
Cara pendidikan anak yang berbeda oleh kedua
orangtua atau oleh kakek/nenek
d.
Sikap orangtua yang dingin dan acuh tak acuh
terhadap anak
e.
Sikap orangtua yang kasar
dan keras kepada anak
f.
Campur tangan atau perhatian yang berlebih
dari orangtua terhadap anak
g.
Orang tua yang jarang di rumah atau
terdapatnya isteri lain
h.
Sikap atau kontrol yang
tidak konsisiten, kontrol yang tidak cukup
i.
Kurang stimuli kongnitif atau sosial
j.
Lain-lain, menjadi anak angkat, dirawat di
rumah sakit, kehilangan orang tua, dan lain sebagainya.
B.
Kondisi Sekolah
Kondisi
sekolah yang tidak baik dapat menganggu proses belajar mengajar anak didik,
yang pada gilirannya dapat memberikan “peluang” pada anak didik untuk berperilaku
menyimpang. Kondisi sekolah yang tidak baik tersebut, antara lain;
a.
Sarana dan prasarana
sekolah yang tidak memadai
b.
Kuantitas dan kualitas tenaga guru yang tidak
memadai
c.
Kualitas dan kuantitas
tenaga non guru yang tidak memadai
d.
Kesejahteraan guru yang tidak memadai
e.
Kurikilum sekolah yang sering berganti-ganti,
muatan agama/budi pekerti yang kurang
f.
Lokasi sekolah di daerah rawan, dan lain
sebagainya.
C.
Lingkunga Masyarakat
Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak
sehat atau “rawan”, dapat merupakan faktor yang kondusif bagi anak/remaja untuk
berperilaku menyimpang. Faktor lingkungan masyarakat ini dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu pertama, faktor
kerawanan masyarakat dan kedua, faktor daerah rawan (gangguan kamtibmas). Kriteria
dari kedua faktor tersebut, antara lain:
a.
Faktor Kerawanan Masyarakat (Lingkungan)
1)
Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut
malam bahkan sampai dini hari
2)
Peredaran alkohol,
narkotika, obat-obatan terlarang lainnya
3)
Pengangguran
4)
Anak-anak putus sekolah/anak jalanan
5)
Wanita tuna susila (wts)
6)
Beredarnya bacaan,
tontonan, TV, Majalah, dan lain-lain yang sifatnya pornografis dan kekerasan
7)
Perumahan kumuh dan padat
8)
Pencemaran lingkungan
9)
Tindak kekerasan dan kriminalitas
10)
Kesenjangan sosial
b.
Daerah Rawan (Gangguan Kantibmas)
1)
Penyalahgunaan alkohol,
narkotika dan zat aditif lainnya
2)
Perkelahian perorangan atau berkelompok/massal
3)
Kebut-kebutan
4)
Pencurian, perampasan, penodongan,
pengompasan, perampokan
5)
Perkosaan
6)
Pembunuhan
7)
Tindak kekerasan lainnya
8)
Pengrusakan
9)
Coret-coret dan lain sebagainya
Dari beberapa faktor di atas, sudah
dapat kita ketahui bahwa banyak permasalahan yang bisa dihadapi oleh seorang
remaja dalam masa perkembangannya, mulai dari masalah pribadi, keluarga bahkan
masalah sosial. Oleh sebab itu maka pentinglah bagi kita untuk memahami
faktor-faktor serta permasalahan dalam ruang lingkup remaja.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa dimana seorang
manusia akan mulai belajar untuk mempersiapkan perubahannya dari masa
anak-anak, menuju masa dewasa. Dimana pada masa ini banyak hal menarik yang
akan memberikan pengalaman dan pembelajaran baik bagi para remaja.
Dan atas berbagai aspek yang bsa menjadi fakor
penyebab timbulnya perilaku menyimpang pada remaja, di sinilah peran penting
pendidik beserta orang tua untuk menjadi pendamping serta pendidik yang secara
langsung bisa mengarahkan dan setidaknya mau menginformasikan pada remaja. Agar
masa remajanya bisa lebih terarah dan lebih baik, serta terhindar dari berbagai
masalah yang ada.
B. Saran
Pada pendidik dan orang tua, hendaknya mampu
untuk mengarahkan dan mengajarkan pada anak dan pada remaja khususnya. Agar
nantinya mreka dapat menunaikan tugas perkembangan mareka dengan baik, sebab
tugas perkembangan yang terpenuhi dengan baik. Hal itulah yang akan menjadikan
masa dewasanya nanti dengan baik.
Peran serta semua pihaklah yang akan sangat
mendukung tumbuh kembang remaja, oleh sebab itu lingkungan yang baik merupakan
tempat yang baik untuk masa pencarian jati diri remaja.
DAFTAR
PUSTAKA
Kartono, Kartini.
2007. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung: CV. Mandar Maju
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=remaja+dan+permasalahannya&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fsofia-psy.staff.ugm.ac.id%2Ffiles%2Fremaja_dan_permasalahannya.doc&ei=IndyUOKyHMiHrAfDt4DIDg&usg=AFQjCNHq_a8bqOhg7jJImY51Q9y8VnL_LA (Diakses Tanggal 8 Oktober 2012, Pukul 13.15 WITA)
http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/1a%20MAKALAH%20AULIA-1.pdf (Diakses Tanggal 8 Oktober 2012, Pukul 13.30 WITA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar