BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Stres dialami oleh setiap orang
dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status
sosial-ekonomi. Stres bisa dialami oleh bayi, anak-anak, remaja, atau dewasa.
Stres dapat memberikan pengarus
positif dan negatif terhadap individu.
Pengaruh positif dari stres adalah
mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan
menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan pengaruh negatifnya adalah menimbulkan
perasaan-perasaan tidak percaya diri, peolakan, marah, atau depresi, yang
kemudian memicu penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan
darah tinggi, atau stroke.
Untuk mengetahui apa itu stres
dan penyebbnya, maka kelompok kami menyusun makalah ini dengan membahas sress
dan penyebabnya, serta beberapa penangannanya.
B.
Tujuan
Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi
Abnormal, makalah ini juga diharapkan dapat memberikan informasi pada pembaca
tentang stres, penyebabnya dan juga penanganannya, untuk menjadi bahan
pembelajaran.
BAB
II
STRES
A.
Pengertian
Stres
Stres merupakan fenomena psikofisik yang manusiawi. Artinya stres itu
bersifat inheren pada diri setiap orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Stres
dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan,
jabatan, atau status sosial-ekonomi. Stres bisa dialami oleh bayi, anak-anak,
remaja, atau dewasa; pejabat atau warga masyarakat biasa; pengusaha atau
karyawan; serta pria maupun wanita.
Adapun beberapa definisi yang kami dapatkan menyatakan stres sebagai
berikut:
·
Menurut Selye (1936)
Stres adalah
respon terhadap
berbagai kondisi lingkungan yang memicu psikopatologi dengan beragam kriteria seperti
penderitaan emosional, deteriorasi kinerja, atau berbagai perubahan fisiologis
seperti meningkatnya konduktans kulit atau meningkatnya hormon tertentu.
·
Wikipedia Ind
Stres merupakan
suatu kondisi dimana keadaan tubuh terganggu karena tekanan psikologis.
Biasanya stres dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai
kejiwaan. Akan tetapi karena pengaruh stres tersebu maka penyakit fisik bisa
muncul akibat lemahnya dan rendahnya daya tahan tubuh pada saat tersebut.
·
Beberapa peneliti
lain melihat stres sebagai suatu stimulus, yang sering kali disebut sebagai stresor,
dan bukan suatu respon, dan mengidentifikasinya dengan suatu daftar panjang
berbagai kondisi lingkungan, seperti sengatan listrik, kebosanan, stimuli yang
tidak dapat dikendalikan, berbagai rencana kehidupan, masalah sehari-hari, dan
kurang tidur.
Pada
tahun 1936 Hans Selye, seorang dokter, memperkenalkan syndrom adaptasi menyeluruh
(General Adaptation Syndrome) atau GAS, suatu gambaran respon biologis untuk
bertahan dan mengatasi stres fisik. Terdapat tiga fase dalam model ini:
1.
Fase pertama, yaitu
reaksi alarm (alarm reaction), sistem saraf otonom diaktifkan oleh stres. Jika
stres terlalu kuat, terjadi luka pada saluran pencernaan, kelenjar adrenalin
membesar, dan thimulus menjadi lemah.
2.
Fase keduan,
resistensi (resistance), organisme beradaptasi dengan stres melalui berbagai
mekanisme coping yang dimiliki.
3.
Jika stresor
menetap atau organisme tidak mampu merespon secara efektif, terjadi fase
ketiga, yaitu suatu tahap kelelahan (exhaustion) yang amat sangat, dan
organisme mati atau menderita kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.
B.
Faktor-Faktor Penyebab atau Pemicu (Stresor)?
Beberapa
peneliti lain melihat stres sebagai suatu stimulus, yang sering kali disebut
sebagai stresor.
1. Kejadian
hidup sehari-hari baik gembira dan sedih seperti:
·
Menikah/mempunyai anak
·
Mulai tempat kerja
baru/pindah rumah/emigrasi.
·
Kehilangan orang yang
dicintai baik meninggal atau cerai.
·
Maslah hubungan
pribadi.
2. Pelajaran
sekolah maupun pekerjaan yang membutuhkan jadwal waktu yang ketat, atau
bekerja dengan alasan yang keras dan kurang pengertian.
3. Tidak
sehat
4. Lingkungan
seperti terlalu ramai, terlalu banyak orang ataun terlalu panas dalam rumah
atau tempat kerja.
5. Masalah
keuangan seperti hutang dan pengeluaran di luar kemampuan.
6. Kurang
percaya diri
7. Terlalu
ambisi dan bercita-cita terlalu tinggi.
8. Perasaan
negative seperti rasa bersalah dan tidak tahu cara pemecahannya.
9. Tidak
dapat bergaul, kurang dukungan kawan.
10. Membuat
keputusan masalah yang bisa merubah jalan hidupnya atau dipaksa untuk merubah
nilai-nilai/prinsip hidup pribadi. Yang dapat dilakukan.
C.
Jenis
Stres
1. Eustres:
stres yang dapat menigkatkan kinerja (stres positif)
2. Distres:
Stres yang menimbulkan tekanan dan ketegangan
D.
Coping
Lazarus (1996), Coping: upaya manusia
dalam mengatasi masalah atau menangani
emosi yang umumnya
neggatif atau merespon situasi penuh
stres.
(Roesch & Weiner,
2001)
Coping berupa
pelarian/penghindaran (misalnya berharap bahwa situasi akan berakhir dengan
sendirinya) merupakan metode coping yang paling tidak efektif untuk mengadapi
banyak masalah kehidupan.
Banyak orang meyakini bahwa tidak mungkin mendefinisikan
secara objektif peristiwa atau situasi untuk
dapat dikategorikan sebagai stresor psikologi (a.l., Lazarus, 1966).
Mereka menekankan aspek kognitif stres, yaitu, mereka meyakini bahwa cara kita
menerima atau menilai lingkungan menentukan apakah terdapat suatu stresor.
Dua
Dimensi Coping (Lazarus dan Folkman, 1984):
1. Coping
yang berfokus pada masalah
Mencakup
bertindak langsung untuk mengatasi maslah atau mencari informasi yang relevan
dengan solusinya. Contohnya adalah menyusun jadwal belajar untuk menyelesaikan
berbagai tugas dalam satu semester sehingga mengurangi tekanan pada akhir
semester.
2. Coping
yang berfokus pada emosi
Merujuk pada berbagai
upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negative erhadap stres,
contohnya, dengan mengalihkan perhatian dari masalah, melakukan relaksasi, atau
mencari r asa nyaman dari orang lain.
Reaksi
Stres:
a. Reaksi
pada Aspek Jasmaniah
Respon otomatis
terhadap situasi yang menekan ditandai dengan kerja keras dari organ-organ yang
ada dibawah system saraf simpatetik antara lain: pupil mata, produksi saliva
menurun, paru-paru lebih mengembang karena oksigen lebih banyak, kadar gula
dalam darah meningkat, jantung berdetak lebih keras, darah membawa oksigen dan
glukosa lebih banyak sebagai sumber energy, kelenjar adrenalin memproduksi
hormone adrenalin, pada limpa lebih banyak sel darah merah yang dikeluarkan dan
membawa lebih banyak oksigen ke otot, pencernaan makanan terhenti dan energy
dipusatkan ke otot. Bila situasi tetap tidak terkendali dan stres menjadi
sesuatu yang kronis maka dapat beraibat munculnya berbagai macam penyakit.
b. Reaksi
pada Aspek Psikologis
Stres
mempengaruhi pikiran dan perasaan seperti bingung, khawattir, perubahan pola
tidur, makan, perilaku seks, konsentrasi menurun, tidak mampu berfikir jernih,
tidak mampu mengambil keputusan, harga diri menurun, kepercayaan diri
berkurang, putus asa dan depresi. Individu yang sering stres cenderung
melarikan diri dari keyataan, misalnya mengkonsumsi alkohok dan obat-obatan.
c. Reaksi
pada Aspek Social
Kehabisan tenaga
untuk berartisipasi aktif dalam kegiatan di lingkungan sekitar. Pikiran
negative mengatakan bahwa diri ditolak orang lain, sehingga muncul keyakinan
bahwa orang lain membenci dan menolak diri. Akibatnya menarik diri dari
lingkungan, dan menjauh dari hubungan denagn orag lain.
d. Reaksi
pada Aspek Spiritual
Individu yang
mengalami kegagalan, musibah, atau bencana sering merasa putus asa, mengeluh
bahwa Tuhan tidak adil, dan tidak rela atas takdir Tuhan yang menimpa dirinya.
Individu tidak mampu berfikir jernih dan mengambil hikmah dari cobaan-Nya,
bahkan keputusannya yang dialami dapat makin menjauhkan diri dari Tuhan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Stres
merupakan fenomena psikofisik yang manusiawi. Stres
adalah respon terhadap
berbagai kondisi lingkungan yang memicu psikopatologi dengan beragam kriteria seperti
penderitaan emosional, deteriorasi kinerja, atau berbagai perubahan fisiologis
seperti meningkatnya konduktans kulit atau meningkatnya hormon tertentu.
Beberapa
peneliti lain melihat stres sebagai suatu stimulus, yang sering kali disebut
sebagai stresor, dan bukan suatu respon, dan mengidentifikasinya dengan suatu
daftar panjang berbagai kondisi lingkungan.
Beberapa peneliti lain melihat stres sebagai suatu
stimulus, yang sering kali disebut sebagai stresor. Ada 2 jenis stres, yaitu:
1. Eustres:
stres yang dapat menigkatkan kinerja (stres positif)
2. Distres:
Stres yang menimbulkan tekanan dan ketegangan
Coping:
upaya manusia dalam mengatasi masalah atau menangani emosi yang umumnya negatif
atau merespon situasi penuh
stres.
B.
Saran
Kita
sebagai manusia yang mudah menjurus ke penderitaan emosional atau stress,
seharusnya bisa untuk mengarahkan ke arah yang positif. Serta
memberikan pengarus positif terhadap oranglain. Selain itu, kita bisa lebih
mengetahui apa saja yang memicu terjadinya stress serta cekatan dalam
meminimalisir dan menanganinya.
Semoga pembaca bisa menjadikan makalah ini sebagai
ilmu pengetahuan dan penambah rasa percaya diri. Agar nantinya dapat
menghasilkan pengalaman baru yang bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Davison, Gerald
C. Psikologi Abnormal edisi ke-9.
Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. 2004.
Halgin, Richard
P. Psikologi Abnormal. Jakarta:
Salemba Humanika. 2010.
Mashudi,
Farid. Psikologi Konseling. Jakarta: IRCiSoD. 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar