Selasa, 25 Desember 2012

Stress


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Stres dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial-ekonomi. Stres bisa dialami oleh bayi, anak-anak, remaja, atau dewasa.
Stres dapat memberikan pengarus positif dan negatif terhadap individu.
Pengaruh positif dari stres adalah mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan pengaruh negatifnya adalah menimbulkan perasaan-perasaan tidak percaya diri, peolakan, marah, atau depresi, yang kemudian memicu penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.
Untuk mengetahui apa itu stres dan penyebbnya, maka kelompok kami menyusun makalah ini dengan membahas sress dan penyebabnya, serta beberapa penangannanya.

B.     Tujuan
Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Abnormal, makalah ini juga diharapkan dapat memberikan informasi pada pembaca tentang stres, penyebabnya dan juga penanganannya, untuk menjadi bahan pembelajaran.












BAB II
STRES

A.    Pengertian Stres
Stres merupakan fenomena psikofisik yang manusiawi. Artinya stres itu bersifat inheren pada diri setiap orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Stres dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial-ekonomi. Stres bisa dialami oleh bayi, anak-anak, remaja, atau dewasa; pejabat atau warga masyarakat biasa; pengusaha atau karyawan; serta pria maupun wanita.
Adapun beberapa definisi yang kami dapatkan menyatakan stres sebagai berikut:
·         Menurut Selye (1936)
Stres adalah respon terhadap berbagai kondisi lingkungan yang memicu psikopatologi dengan beragam kriteria seperti penderitaan emosional, deteriorasi kinerja, atau berbagai perubahan fisiologis seperti meningkatnya konduktans kulit atau meningkatnya hormon tertentu.
·         Wikipedia Ind
Stres merupakan suatu kondisi dimana keadaan tubuh terganggu karena tekanan psikologis. Biasanya stres dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai kejiwaan. Akan tetapi karena pengaruh stres tersebu maka penyakit fisik bisa muncul akibat lemahnya dan rendahnya daya tahan tubuh pada saat tersebut.
·         Beberapa peneliti lain melihat stres sebagai suatu stimulus, yang sering kali disebut sebagai stresor, dan bukan suatu respon, dan mengidentifikasinya dengan suatu daftar panjang berbagai kondisi lingkungan, seperti sengatan listrik, kebosanan, stimuli yang tidak dapat dikendalikan, berbagai rencana kehidupan, masalah sehari-hari, dan kurang tidur.
Pada tahun 1936 Hans Selye, seorang dokter, memperkenalkan syndrom adaptasi menyeluruh (General Adaptation Syndrome) atau GAS, suatu gambaran respon biologis untuk bertahan dan mengatasi stres fisik. Terdapat tiga fase dalam model ini:
1.      Fase pertama, yaitu reaksi alarm (alarm reaction), sistem saraf otonom diaktifkan oleh stres. Jika stres terlalu kuat, terjadi luka pada saluran pencernaan, kelenjar adrenalin membesar, dan thimulus menjadi lemah.
2.      Fase keduan, resistensi (resistance), organisme beradaptasi dengan stres melalui berbagai mekanisme coping yang dimiliki.
3.      Jika stresor menetap atau organisme tidak mampu merespon secara efektif, terjadi fase ketiga, yaitu suatu tahap kelelahan (exhaustion) yang amat sangat, dan organisme mati atau menderita kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.

B.     Faktor-Faktor Penyebab atau Pemicu (Stresor)?
Beberapa peneliti lain melihat stres sebagai suatu stimulus, yang sering kali disebut sebagai stresor.
1.      Kejadian hidup sehari-hari baik gembira dan sedih seperti:
·         Menikah/mempunyai anak
·         Mulai tempat kerja baru/pindah rumah/emigrasi.
·         Kehilangan orang yang dicintai baik meninggal atau cerai.
·         Maslah hubungan pribadi.
2.      Pelajaran sekolah maupun pekerjaan yang membutuhkan jadwal waktu yang ketat, atau bekerja dengan alasan yang keras dan kurang pengertian.
3.      Tidak sehat
4.      Lingkungan seperti terlalu ramai, terlalu banyak orang ataun terlalu panas dalam rumah atau tempat kerja.
5.      Masalah keuangan seperti hutang dan pengeluaran di luar kemampuan.
6.      Kurang percaya diri
7.      Terlalu ambisi dan bercita-cita terlalu tinggi.
8.      Perasaan negative seperti rasa bersalah dan tidak tahu cara pemecahannya.
9.      Tidak dapat bergaul, kurang dukungan kawan.
10.  Membuat keputusan masalah yang bisa merubah jalan hidupnya atau dipaksa untuk merubah nilai-nilai/prinsip hidup pribadi. Yang dapat dilakukan.

C.    Jenis Stres
1.      Eustres: stres yang dapat menigkatkan kinerja (stres positif)
2.      Distres: Stres yang menimbulkan tekanan dan ketegangan

D.    Coping
Lazarus (1996), Coping: upaya manusia dalam mengatasi masalah atau menangani
emosi yang umumnya neggatif atau merespon situasi penuh stres.
(Roesch & Weiner, 2001)
Coping berupa pelarian/penghindaran (misalnya berharap bahwa situasi akan berakhir dengan sendirinya) merupakan metode coping yang paling tidak efektif untuk mengadapi banyak masalah kehidupan.
Banyak orang meyakini bahwa tidak mungkin mendefinisikan secara objektif peristiwa atau situasi untuk  dapat dikategorikan sebagai stresor psikologi (a.l., Lazarus, 1966). Mereka menekankan aspek kognitif stres, yaitu, mereka meyakini bahwa cara kita menerima atau menilai lingkungan menentukan apakah terdapat suatu stresor.
Dua Dimensi Coping (Lazarus dan Folkman, 1984):
1.      Coping yang berfokus pada masalah
Mencakup bertindak langsung untuk mengatasi maslah atau mencari informasi yang relevan dengan solusinya. Contohnya adalah menyusun jadwal belajar untuk menyelesaikan berbagai tugas dalam satu semester sehingga mengurangi tekanan pada akhir semester.
2.      Coping yang berfokus pada emosi
Merujuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negative erhadap stres, contohnya, dengan mengalihkan perhatian dari masalah, melakukan relaksasi, atau mencari r asa nyaman dari orang lain.
Reaksi Stres:
a.       Reaksi pada Aspek Jasmaniah
Respon otomatis terhadap situasi yang menekan ditandai dengan kerja keras dari organ-organ yang ada dibawah system saraf simpatetik antara lain: pupil mata, produksi saliva menurun, paru-paru lebih mengembang karena oksigen lebih banyak, kadar gula dalam darah meningkat, jantung berdetak lebih keras, darah membawa oksigen dan glukosa lebih banyak sebagai sumber energy, kelenjar adrenalin memproduksi hormone adrenalin, pada limpa lebih banyak sel darah merah yang dikeluarkan dan membawa lebih banyak oksigen ke otot, pencernaan makanan terhenti dan energy dipusatkan ke otot. Bila situasi tetap tidak terkendali dan stres menjadi sesuatu yang kronis maka dapat beraibat munculnya berbagai macam penyakit.
b.      Reaksi pada Aspek Psikologis
Stres mempengaruhi pikiran dan perasaan seperti bingung, khawattir, perubahan pola tidur, makan, perilaku seks, konsentrasi menurun, tidak mampu berfikir jernih, tidak mampu mengambil keputusan, harga diri menurun, kepercayaan diri berkurang, putus asa dan depresi. Individu yang sering stres cenderung melarikan diri dari keyataan, misalnya mengkonsumsi alkohok dan obat-obatan.

c.       Reaksi pada Aspek Social
Kehabisan tenaga untuk berartisipasi aktif dalam kegiatan di lingkungan sekitar. Pikiran negative mengatakan bahwa diri ditolak orang lain, sehingga muncul keyakinan bahwa orang lain membenci dan menolak diri. Akibatnya menarik diri dari lingkungan, dan menjauh dari hubungan denagn orag lain.

d.      Reaksi pada Aspek Spiritual
Individu yang mengalami kegagalan, musibah, atau bencana sering merasa putus asa, mengeluh bahwa Tuhan tidak adil, dan tidak rela atas takdir Tuhan yang menimpa dirinya. Individu tidak mampu berfikir jernih dan mengambil hikmah dari cobaan-Nya, bahkan keputusannya yang dialami dapat makin menjauhkan diri dari Tuhan.












BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Stres merupakan fenomena psikofisik yang manusiawi. Stres adalah respon terhadap berbagai kondisi lingkungan yang memicu psikopatologi dengan beragam kriteria seperti penderitaan emosional, deteriorasi kinerja, atau berbagai perubahan fisiologis seperti meningkatnya konduktans kulit atau meningkatnya hormon tertentu.
Beberapa peneliti lain melihat stres sebagai suatu stimulus, yang sering kali disebut sebagai stresor, dan bukan suatu respon, dan mengidentifikasinya dengan suatu daftar panjang berbagai kondisi lingkungan.
Beberapa peneliti lain melihat stres sebagai suatu stimulus, yang sering kali disebut sebagai stresor. Ada 2 jenis stres, yaitu:
1.      Eustres: stres yang dapat menigkatkan kinerja (stres positif)
2.      Distres: Stres yang menimbulkan tekanan dan ketegangan
Coping: upaya manusia dalam mengatasi masalah atau menangani emosi yang umumnya negatif atau merespon situasi penuh stres.
B.     Saran
Kita sebagai manusia yang mudah menjurus ke penderitaan emosional atau stress, seharusnya bisa untuk  mengarahkan ke arah yang positif. Serta memberikan pengarus positif terhadap oranglain. Selain itu, kita bisa lebih mengetahui apa saja yang memicu terjadinya stress serta cekatan dalam meminimalisir dan menanganinya.
Semoga pembaca bisa menjadikan makalah ini sebagai ilmu pengetahuan dan penambah rasa percaya diri. Agar nantinya dapat menghasilkan pengalaman baru yang bermanfaat.








DAFTAR PUSTAKA

Davison, Gerald C. Psikologi Abnormal edisi ke-9. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. 2004.
Halgin, Richard P. Psikologi Abnormal. Jakarta: Salemba Humanika. 2010.
Mashudi, Farid. Psikologi Konseling. Jakarta: IRCiSoD. 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar