BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui dalam suatu
kelompok maupun organisasi pasti terdapat fungsi manajement yaitu: Planning,
Organization, Actuating, Controlling. Dan apa bila salah satu dari beberapa
fungsi tersebut tidak berjalan dengan baik, maka akan menimbulkan
ketimpangan-ketimpangan dalam semua aktivitasnya sehingga akan mempegaruhi
tercapainya tujuan dari kelompok atau organisasi.
Maka untuk mencapai tujuan
dan mewujudkan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dibutuhkan pemimpin yang
baik.
Salah satu tantangan yang paling berat
bagi seorang pemimpin adalah bagaimana ia dapat mengarahkan para anggotanya
agar senantiasa mau dan bersedia mengerahkan kemampuannya yang terbaik untuk
kepentingan kelompok atau organisasi.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Pemimpin dan
Kepemimpinan?
2.
Bagaimana mempengaruhi dan mengendalikan sikap
anggota kelompok?
3.
Apa saja peran-peran pemimpin?
4.
Bagaimanakah kepemimpinan yang efektif?
C. Tujuan
1.
Mengkaji mengenai pemimpin dan hal-hal yang
berkaitan dengan pemimpin.
2.
Mengkaji mengenai keputusan yang ideal yang
sebaiknya diambil oleh pemimpin dalam menghadapi bawahannya.
3.
Membahas peran serta pemimpin yang efektif.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
Untuk melaksanakan fungsi dari manajement dalam suatu organisasi
diperlukan seorang pemimpin, seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai
wewenang untuk memerintahkan orang lain khususnya bawahannya, di dalam ruang
lingkup kelompok atau organisasinya untuk mencapai tujuan dari pada organisasi tersebut.
Menurut
beberapa ahli pemimpin diartikan sebagai:
1. Kartini
Kartono (1994)
Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki
kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang,
sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
2. Sam Walton
Pemimpin besar akan berusaha menanamkan rasa
percaya diri pada para pendukung. Jika orang memiliki percaya diri tinggi, maka
kita akan terkejut pada hasil luar biasa yang akan mereka raih.
3. C.N. Cooley
(1902)
Pemimpin itu selalu merupakan titik pusat dari
suatu kecenderungan, dan pada kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau
diamati secara cermat akan akan ditemukan kecenderungan yang memiliki titik
pusat.
Dari pengertian menurut ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
pemimpin merupakan pusat perhatian dari suatu kelompok atau organisasi dan
merupakan pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan pada suatu bidang dan
mampu mempengaruhi anggotanya dan mampu membangun gerak sosial yang memusat.
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain,
dengan kata lain keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada kemampuan
untuk mempengaruhi. Melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung.
Berbagai studi tentang kepemimpinan bisa dikelompokkan menjadi
tiga pendekatan, yaitu yang mendasarkan atas traits (sifat, perangai) atau kualitas yang diperlukan seseorang
untuk menjadi pimpinan.
Pertama, yang mempelajari perilaku (behavior) yang diperlukan
seseorang untuk menjadi pemimpin yang efektif. Kedua, pendekatan yang
menganggap bahwa apabila seseorang mempunyai karakteristik atau kualitas dan
perilaku tertentu, akan menjadi pemimpin pada situasi apapun ia ditempatkan.
Pendekatan yang ketiga yaitu pendekatan contigencyyang
berdasarkan faktor-faktor situasional, untuk menentukan gaya kepemimpinan yag
efektif.
B. MEMPENGARUHI SIKAP ANGGOTA KELOMPOK
Manusia sebagai mahluk individu,
selalu berusaha memperkembangkan diri, baik kemampuan spiritual maupun
kemampuan material. Dalam usaha ke arah itu manusia menggunakan bermacam-macam
cara dan bentuk usaha, terutama di dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka,
dari kebutuhan pokok sampai dengan kebutuhan skunder.
Pada umumnya latar belakang seseorang
menjadi anggota sesuatu kelompok karena masalah pemenuhan kebutuhan; kendatipun
dalam hal ini harus kita bedakan antara kebutuhan pokok dan kebutuhan
sampingan.
Individu yang memimpin kelompoknya
akan memperlihatkan sejumlah tingkah laku, seperti; mengarahkan, membimbing,
mempengaruhi dan atau menguasai fikiran-fikiran, perasaan-perasaan atau tingkah
laku orang lain. Tindakan atau tingkah laku pemimpin tersebut baru berarti bila
dikaitkan dengan suatu tujuan serta situasi dan kondisi tersebut.
Seseorang pemimpin akan terlihat
kemampuannya dalam memimpin itu dari kepemimpinanya. Secara ringkas
kepemimpinan itu mencakup tugas; pemaduan, penuntunan, pemberian motivasi dan
menjalin jaringan komunikasi yang mantap.
Semua tugas tersebut berkaitan erat
dengan hal-hal seperti: kepengikutan, tujuan dan kegiatan mempengaruhi atau
merubah sikap orang yang dipimpin sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Bagaimana merubah sikap orang yang dipimpin? Untuk itu sarana yang paling utama
untuk perubahan sikap orang yang dipimpin adalah komunikasi, termasuklah dalam
hubungan ini komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah.
Setiap individu menanggapi lingkungan
sosial, termasuk kelompoknya serta pemimpin dalam kelompok, dengan kriteria dan
sikap sendiri-sendiri yang subjektif, yang sangat dipengaruhi oleh norma dan
kriteria kebudayaan jamannya. Dengan kata lain tanggapan dan opini orang-orang
yang dipimpin, sifatnya tidak personal, akan tetapi lebih bersifat sosial atau
produk dari konsep yang ditentukan oleh kebudayaan pada zaman itu, dan bukan
semata-mata pencerminan asli realitas itu sendiri.
Sikap pada dasarnya merupakan
organisasi dari unsur kognitif, emosional dan macam-macam kemauan yang khusus
dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lampau, sekarang sifatnya sangat
dinamis dan memberi pengarahan pada setiap tingkah laku manusia.
Oleh sebab itu pemimpin suatu
kelompok, seyogyanya dengan penuh rasa tanggung jawab sosial mengkomunikasikan
pada setiap anggotanya, konsep, ide dan sikap tertentu terhadap realisasi dunia
dalam upaya perubahan sikap individu.
Menurut para ahli, ada lima unsur
kepengikutan yang menunjukkan mengapa seseorang atau sejumlah orang menjadi
pengikut orang yang disebut pemimpin meliputi.
1) Kepengikutan
berdasarkan naluri
2) Kepengikutan
berdasarkan tradisi
3) Kepengikutan
berdasarkan agama
4) Kepengikutan
berdasarkan rasio
5) Kepengikutan
berdasarkan peraturan
Kelima dasar kepengikutan di atas
dalam kenyataan selalu bervariasi. Maksudnya seseorang itu mengikuti seseorang
pemimpin tidak hanya berpedoman pada suatu landasan seperti tersebut di atas
acapkali terdapat gabungan dari beberapa dasar. Sikap bervariasi seperti ini
ada kaitannya dengan sikap subjektif anggota kelompok yang pada umumnya
diwarnai pula dengan berbagai tambahan alasan sesuai pengalaman, pendidikan dan
sebagainya. Sikap anggota kelompok yag bervariasi akan dapat kita lihat
pengaruhnya, bila dihadapkan oleh persoalan-persoalan yang menyentuh
kepentingannya.
Dengan demikian masalah
kepengikutannya seyogyanya tidak sekedar dilihat dari banyak para pengikut
untuk memahami, menerima, mempedomani nilai-nilai kelompok yang mengikat
anggotanya. oleh karena itu usaha pembinaan nilai-nilai atau para ahli disebut
sebagai internalisasi nilai kelompok merupakan suatu keharusan pelaksannanya.
Melalui identifikasi diri terhadap
nilai kelompok dan interaksi timbal balik antara anggota kelompok. Secara
lambat laun masalah kepengikutannya yang dapat merapuhkan hubungan antara
pemimpin dan orang yang dipimpin akan dapat dihindari.
C. PERAN-PERAN PEMIMPIN
Tanpa mengecilkan arti pemimpin,
pemimpin yang telah ditentukan, kebanyakan faktor yang menetapkan seseorang
menjadi pemimpin, meliputi masalah : kepribadian, kecakapan, dari yang
bersangkutan dalam membangkitkan inspirasi para pengikut serta faktor-faktor
lain yang ditampilkan oleh seseorang. Atas faktor-faktor tersebut, orang-orang
dengan rela dan mengakui pemimpinnya
Seperti tertulis di atas, dalam
hal yang menyangkut kepribadian, maka sikap serta pandangan terhadap diri
sendiri, dan sekaligus pula pencerminan sikap terhadap diri sendiri, dapat
menentukan kedudukan seseorang dalam kelompoknya. Kesesuaian kedudukan apakah
sebagai pemimpin atau pengikut, dapat tercermin dari sikap dan pandangan
terhadap diri sendiri ini. Nampak apa yang dikatakan Napoleon, bahwa: “ apabila
orang tidak dapat memimpin diri sendiri, maka tidak dapat pula ia memimpin
orang lain.”
Tentunya dalam menghadapi dan
mengatasi suatu masalah, guna mendapatkan penyelesaian dan pencapaian tujuan
secara baik, perencanaan sangatlah diperlukan. Pandangan serta pertimbangan
terhadap masalah yang dihadapi secara menyeluruh, dapat menentukan mutu dari
perencanaan yang dibuat. Sehingga kemampuan dalam memahami masalah, akan
mendasari perencanaan tersebut. Dengan menggunakan pengamatan dan wewenangnya,
pembedaan peran dengan langkah, perantara dan perencanaan yang panjang sesuai
dengan masalah, dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan bersama pada waktu
mendatang dapat dibuat.
Pada dasarnya pemikiran yang
positif,seseorang pemimpin haruslah mempunyai pemikiran yang postif, bahwa
sesuatu harus dab akan dilakukan. Pemimpin adalah seseorang yang aktif dalam
membuat hal-hal terlaksana. Ia bertugas sebagai koordinator, demikian pula
dengan fungsinya yaitu mengusahakan dan melaksanakan suatu kerja untuk mencapai
tujuan bersama. Berarti secara langsung pemimpin mengarahkan, mendekati, dan
mengusahakan penyelesaian masalah dengan tercapainya tujuan bersama.
Lebih dari fungsi anggota lain,
pemimpin mempunyai tugas untuk memimpin dan mengendalikan hal-hal detail dan
spesifik, juga ia mengendalikan hubungan internal di dalam kelompoknya. Karena
pada dasarnya dalam suatu kelompok manusia
selalu mengadakan interaksi, baik dengan benda mati maupun dengan
orang-orang yang terlibat dalam kelompok itu demi pencapaian tujuan bersama,
pemimpin mempunyai tugas untuk menjadi pengamat dan pengendali kelancaran
hubungan-hubungan yang terjadi. Melalui kelancaran dan kebaikan perhubungan
antar unsur, pencapaian tujuan bersama dapat terlaksana dengan lebih baik lagi.
Dalam masalah demikian, pengetahuan tantang hubungan antar manusia, kecakapan
untuk mengadakan komunikasi dan mendidik, kecakapan sosial, serta kemampuan
teknis yang meliputi penganalisaan situasi menjadi tuntutan bagi dirinya selaku
pemimpin.
Walaupun di dalam kedudukannya
sebagai pemimpin, pengaruh keadaan sekitar tetap tidak dapat dilepaskansama
sekali, baik pengaruh dari dalam maupun dari luar kelompok organisasinua. Atas
pengaruh-pengaruh yang ada, maka dalam pembuatan kebijakan akan terdapat tiga
sumber penting. Pertama, dari fikah yang lebih berkuasa, temasuk di dalamnya
aturan-aturan yang berada di luar kelompoknya akan tetapi memberikan pengaruh
terhadap kehidupan kelompoknya. Kedua bersumber dari pihak bawahan. Bagaimanapun
juga bawahan sebagai pengikut, tetap memegang peran yang tidak kecil dalam
menentukan pencapaian tujuan bersama. Sehingga pengaturan guna kelancaran
pencapaian tujuan agar dapat terlaksana dengan baik terpengaruh pula oleh
kedudukan pengikut. Ketiga, berasal dan bersumber dari dirinya sendiri selaku
pemimpin. Sebagai seorang pemimpin, maka sekali waktu otonomi dipegangnya untuk
menetapkan keputusan mengenai suatu kebijakan yang akan diambil.
Pada kesempatan-kesempatan
demikian, kecakapan sosial pada umumnya sengat diperlukan, di samping kecakapan lain yang meliputi kecakapan untuk
mengadakan komunikasi dan mendidik, serta kecakapan teknis dalam menganalisa
situasi secara menyeluruh dan teknik mengambil keputusan.
Melalui wewenang yang luas,
pemimpin mempunyai ruang gerak yang luas pula. Ketajaman pendangan pengikut
tarhadap pimpinannya bukan merupakan hal yang luar biasa. Sorotan dan penilaian
terhadap diri pemimpin dapat terjadi perhatian para pengikut. Terlepas dari
baik dan buruk, tentunya sikap, tindak dan cara dari seseorang pemimpin,
diharapkan dapat dijadikan contoh atau teladan untuk ditiru dan diikuti oleh
para pengikutnya.
Tuntutan terhadap oemimoin selaku
penanggung jawab keseluruhan, serta sorotan dan pandangan yang terarah
kepadanya, maka kesalahan-kesalahan yang diperbuat anggota kelompok sesuai
dengan tingkatannya, pada akhirnya merupakan tanggung jawab pimpinan. Melalui
pertanggungjawaban umum serta sorotan terhadap pemimpin, berarti kesalahan
anggota dalam rangkaiannya akan menjadi kesalahan pemimpin.
Kecakapan-kecakapan yang
diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin, tidak terlepas pula dari masalah
kepribadian itu sendiri. Suatu pendapat beranggapan bahwa, pada dasarnya
manusia dibentuk dan terbentuk oleh pengalaman, demikian pula halnya dengan
kepribadian pemimpin, mempunyai kemungkinan pula untuk dibentuk dalam diri
setiap orang, demikian dengan kecakapan-kecakapan yang diperlukan untuk menjadi
pemimpin.
Peran-peran dari seseorang
pemimpin seperti tertulis diatas, dapat dikatakan sebagai suatu bagian kecil
dari tuntutan-tuntutan yang timbul terhadap dirinya. Peran-peran itupun
menuntut pula berbagai masalah yang menyangkut kecakapan dan kemampuan, serta
kepribadian tertentu yang kompleks sifatnya.
Kembali kepada pepatah yang
dikemukakan Napoleon: “ Maka langkah baik seandainya kita mencoba untuk memimpin diri sendiri terlebih dahulu,
sebelum mencoba untuk memimpin orang lain. Atau mungkin pula bila kita telah
menjadi seorang pemimpin: “ Akan bertambah baiklah bila ada kesediaan serta usaha
dari diri untuk meningkatkan pimpinan terhadap diri sendiri dan orang lain
secara bersama”. Dengan melalui hal ini, bila memimpin diri sudah tidak menjadi
masalah, maka kepemimpinan dan kewibawaan tidak akan mejadi persoalan pula,
karena keduanya akan berjalan seiring dengan menyertainya.
Sesuai dengan keluasan wewenang
dan tanggung jawabnya, dalam keadan tertentu pemimpin dapat menempati dan
menggantikan peran dari kedudukan yang bersangkutan. Keadaan demikian tetap
dimaksudkan untuk memperoleh kelancaran dalam usaha pencapaian tujuan bersanam.
Kemacetan yang terjadi, baik karena ketidak hadiran atau ketidak mampuan
seorang anggota, demi kelancaran adalah hak pemimpin untuk pengaturannya, dan
mungkin pula akan diisi dan dilaksanakannya sendiri.
Walaupun secara keseluruhan dalam
penggantian peran anggota lain
merupakan peran dari seorang
pemimpin, tetapi secara lebih khususnya berarti pemimpin mendapatkan tugas
tambahan sesuai dengan kedudukan anggota lain yang digantikannya. Pada keadaan
yang demikian, dapat terlihat peran seorang pemimpin sebagai ahli dan teladan
bagi anggota lainnya.
D. KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
Kepemimpinan yang efektif sangat penting untuk
kelangsungan hidup dan keberhasilan sebuah organisasi perusahaan. Tak
seorangpun yang berpendapat sama mengenai
definisi terbaik untuk kepemimpinan, tapi dari definisi-definisi yang ada,
setidaknya dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan mengandung arti bahwa seorang
pemimpin mempengaruhi orang lain (bawahannya) supaya lebih bekerja keras dalam
tugasnya, atau merubah kelakuan mereka. Sangatlah penting untuk dibedakan “
kepemimpinan” dengan kepemimpinan yang efektif. Untuk melihat efektif tidaknya
suatu kepemimpinan, kita harus melihat hasil kepemimpinan itu.
Yang biasa dijadikan kriteria
kepemimpinan yang efektif yaitu hasil kerjasama atau prestasi kelompok yang
dipimpin atau unit bagiannya. Seorang pimpinan yang efektif tidak hanya bisa
mempengaruhi bawahan-bawahannya, tapi juga bisa menjamin bahwa para bawahannya
tersebut bekerja dengan seluruh kemampuan mereka.
Rasa tertarik pada masalah kepemimpinan
terbukti sudah ada sejak permulaan tertulisnya sejarah umat manusia, tapi
penyelidikan ilmiah mengenai kepemimpinan merupakan suatu hal yang relatif
baru. Walaupun sudah ada beberapa kemajuan yang berhasil menyingkap tabir-tabir
misteri yang menutupi proses kepemimpinan, banyak pertanyaan tetap tak
terjawab. Tujuan tulisan dalam bab ini yaitu mengamati beberapa aspek
kepemimpinan supaya kita memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai proses yang penting sebagai
pemimpin.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pemimpin merupakan pilar dan orang yang merupakan sorotan dari
sebuah kelompok, karena pemimpin adalah pusat perhatian dari suatu kelompok
atau organisasi dan merupakan pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan
pada suatu bidang dan mampu mempengaruhi anggotanya dan mampu membangun gerak
sosial yang memusat.
Kebanyakan faktor yang menetapkan seseorang menjadi pemimpin,
meliputi masalah : kepribadian, kecakapan, dari yang bersangkutan dalam
membangkitkan inspirasi para pengikut serta faktor-faktor lain yang ditampilkan
oleh seseorang.
B. SARAN
Dengan adanya makalah ini diharapkan kita mampu untuk memahami
seluk-beluk seorang pemimpin. Dimana pemimpin yang ideal merupakan kunci utama
dari keberhasilan suatu kelompok atau organisasi dalam mencapai tujuannya.
Maka dalam memilih dan menentukan suatu pemimpin dalam kelompok,
bukanlah hal yang mudah. Karena harus mempertimbangkan hal yang signifikan
dalam menentukan kualifikasi seorang pemimpin.
DAFTAR
PUSTAKA
Anoraga,
Panji. 2003. Psikologi Kepemimpinan.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
(Diunduh tanggal 2 Oktober 2012, Pukul 10.15)
(Diunduh
Tanggal 2 Oktober 2012, Pukul 11.25)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar