Kamis, 11 Oktober 2012

Peran Pemimpin Dalam Suatu Kelompok


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui dalam suatu kelompok maupun organisasi pasti terdapat fungsi manajement yaitu: Planning, Organization, Actuating, Controlling. Dan apa bila salah satu dari beberapa fungsi tersebut tidak berjalan dengan baik, maka akan menimbulkan ketimpangan-ketimpangan dalam semua aktivitasnya sehingga akan mempegaruhi tercapainya tujuan dari kelompok atau organisasi.
Maka untuk mencapai tujuan dan mewujudkan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dibutuhkan pemimpin yang baik.
Salah satu tantangan yang paling berat bagi seorang pemimpin adalah bagaimana ia dapat mengarahkan para anggotanya agar senantiasa mau dan bersedia mengerahkan kemampuannya yang terbaik untuk kepentingan kelompok atau organisasi. 

B.      Rumusan Masalah
1.       Apa yang dimaksud dengan Pemimpin dan Kepemimpinan?
2.       Bagaimana mempengaruhi dan mengendalikan sikap anggota kelompok?
3.       Apa saja peran-peran pemimpin?
4.       Bagaimanakah kepemimpinan yang efektif?

C.      Tujuan
1.       Mengkaji mengenai pemimpin dan hal-hal yang berkaitan dengan pemimpin.
2.       Mengkaji mengenai keputusan yang ideal yang sebaiknya diambil oleh pemimpin dalam menghadapi bawahannya.
3.       Membahas peran serta pemimpin yang efektif.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
Untuk melaksanakan fungsi dari manajement dalam suatu organisasi diperlukan seorang pemimpin, seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai wewenang untuk memerintahkan orang lain khususnya bawahannya, di dalam ruang lingkup kelompok atau organisasinya untuk mencapai tujuan dari pada organisasi tersebut.
Menurut beberapa ahli pemimpin diartikan sebagai:
1.       Kartini Kartono (1994)
Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
2.       Sam Walton
Pemimpin besar akan berusaha menanamkan rasa percaya diri pada para pendukung. Jika orang memiliki percaya diri tinggi, maka kita akan terkejut pada hasil luar biasa yang akan mereka raih.
3.       C.N. Cooley (1902)
Pemimpin itu selalu merupakan titik pusat dari suatu kecenderungan, dan pada kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau diamati secara cermat akan akan ditemukan kecenderungan yang memiliki titik pusat.
Dari pengertian menurut ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pemimpin merupakan pusat perhatian dari suatu kelompok atau organisasi dan merupakan pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan pada suatu bidang dan mampu mempengaruhi anggotanya dan mampu membangun gerak sosial yang memusat.
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain, dengan kata lain keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada kemampuan untuk mempengaruhi. Melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung.
Berbagai studi tentang kepemimpinan bisa dikelompokkan menjadi tiga pendekatan, yaitu yang mendasarkan atas traits (sifat, perangai) atau kualitas yang diperlukan seseorang untuk menjadi pimpinan.
Pertama, yang mempelajari perilaku (behavior) yang diperlukan seseorang untuk menjadi pemimpin yang efektif. Kedua, pendekatan yang menganggap bahwa apabila seseorang mempunyai karakteristik atau kualitas dan perilaku tertentu, akan menjadi pemimpin pada situasi apapun ia ditempatkan. Pendekatan yang ketiga yaitu pendekatan contigencyyang berdasarkan faktor-faktor situasional, untuk menentukan gaya kepemimpinan yag efektif.

B.      MEMPENGARUHI SIKAP ANGGOTA KELOMPOK
Manusia sebagai mahluk individu, selalu berusaha memperkembangkan diri, baik kemampuan spiritual maupun kemampuan material. Dalam usaha ke arah itu manusia menggunakan bermacam-macam cara dan bentuk usaha, terutama di dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, dari kebutuhan pokok sampai dengan kebutuhan skunder.
Pada umumnya latar belakang seseorang menjadi anggota sesuatu kelompok karena masalah pemenuhan kebutuhan; kendatipun dalam hal ini harus kita bedakan antara kebutuhan pokok dan kebutuhan sampingan.
Individu yang memimpin kelompoknya akan memperlihatkan sejumlah tingkah laku, seperti; mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai fikiran-fikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain. Tindakan atau tingkah laku pemimpin tersebut baru berarti bila dikaitkan dengan suatu tujuan serta situasi dan kondisi tersebut.
Seseorang pemimpin akan terlihat kemampuannya dalam memimpin itu dari kepemimpinanya. Secara ringkas kepemimpinan itu mencakup tugas; pemaduan, penuntunan, pemberian motivasi dan menjalin jaringan komunikasi yang mantap.
Semua tugas tersebut berkaitan erat dengan hal-hal seperti: kepengikutan, tujuan dan kegiatan mempengaruhi atau merubah sikap orang yang dipimpin sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Bagaimana merubah sikap orang yang dipimpin? Untuk itu sarana yang paling utama untuk perubahan sikap orang yang dipimpin adalah komunikasi, termasuklah dalam hubungan ini komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah.
Setiap individu menanggapi lingkungan sosial, termasuk kelompoknya serta pemimpin dalam kelompok, dengan kriteria dan sikap sendiri-sendiri yang subjektif, yang sangat dipengaruhi oleh norma dan kriteria kebudayaan jamannya. Dengan kata lain tanggapan dan opini orang-orang yang dipimpin, sifatnya tidak personal, akan tetapi lebih bersifat sosial atau produk dari konsep yang ditentukan oleh kebudayaan pada zaman itu, dan bukan semata-mata pencerminan asli realitas itu sendiri.
Sikap pada dasarnya merupakan organisasi dari unsur kognitif, emosional dan macam-macam kemauan yang khusus dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lampau, sekarang sifatnya sangat dinamis dan memberi pengarahan pada setiap tingkah laku manusia.
Oleh sebab itu pemimpin suatu kelompok, seyogyanya dengan penuh rasa tanggung jawab sosial mengkomunikasikan pada setiap anggotanya, konsep, ide dan sikap tertentu terhadap realisasi dunia dalam upaya  perubahan sikap individu.
Menurut para ahli, ada lima unsur kepengikutan yang menunjukkan mengapa seseorang atau sejumlah orang menjadi pengikut orang yang disebut pemimpin meliputi.
1)      Kepengikutan berdasarkan naluri
2)      Kepengikutan berdasarkan tradisi
3)      Kepengikutan berdasarkan agama
4)      Kepengikutan berdasarkan rasio
5)      Kepengikutan berdasarkan peraturan
Kelima dasar kepengikutan di atas dalam kenyataan selalu bervariasi. Maksudnya seseorang itu mengikuti seseorang pemimpin tidak hanya berpedoman pada suatu landasan seperti tersebut di atas acapkali terdapat gabungan dari beberapa dasar. Sikap bervariasi seperti ini ada kaitannya dengan sikap subjektif anggota kelompok yang pada umumnya diwarnai pula dengan berbagai tambahan alasan sesuai pengalaman, pendidikan dan sebagainya. Sikap anggota kelompok yag bervariasi akan dapat kita lihat pengaruhnya, bila dihadapkan oleh persoalan-persoalan yang menyentuh kepentingannya.
Dengan demikian masalah kepengikutannya seyogyanya tidak sekedar dilihat dari banyak para pengikut untuk memahami, menerima, mempedomani nilai-nilai kelompok yang mengikat anggotanya. oleh karena itu usaha pembinaan nilai-nilai atau para ahli disebut sebagai internalisasi nilai kelompok merupakan suatu keharusan pelaksannanya.
Melalui identifikasi diri terhadap nilai kelompok dan interaksi timbal balik antara anggota kelompok. Secara lambat laun masalah kepengikutannya yang dapat merapuhkan hubungan antara pemimpin dan orang yang dipimpin akan dapat dihindari.

C.      PERAN-PERAN PEMIMPIN
Tanpa mengecilkan arti pemimpin, pemimpin yang telah ditentukan, kebanyakan faktor yang menetapkan seseorang menjadi pemimpin, meliputi masalah : kepribadian, kecakapan, dari yang bersangkutan dalam membangkitkan inspirasi para pengikut serta faktor-faktor lain yang ditampilkan oleh seseorang. Atas faktor-faktor tersebut, orang-orang dengan rela dan mengakui pemimpinnya
Seperti tertulis di atas, dalam hal yang menyangkut kepribadian, maka sikap serta pandangan terhadap diri sendiri, dan sekaligus pula pencerminan sikap terhadap diri sendiri, dapat menentukan kedudukan seseorang dalam kelompoknya. Kesesuaian kedudukan apakah sebagai pemimpin atau pengikut, dapat tercermin dari sikap dan pandangan terhadap diri sendiri ini. Nampak apa yang dikatakan Napoleon, bahwa: “ apabila orang tidak dapat memimpin diri sendiri, maka tidak dapat pula ia memimpin orang lain.”
Tentunya dalam menghadapi dan mengatasi suatu masalah, guna mendapatkan penyelesaian dan pencapaian tujuan secara baik, perencanaan sangatlah diperlukan. Pandangan serta pertimbangan terhadap masalah yang dihadapi secara menyeluruh, dapat menentukan mutu dari perencanaan yang dibuat. Sehingga kemampuan dalam memahami masalah, akan mendasari perencanaan tersebut. Dengan menggunakan pengamatan dan wewenangnya, pembedaan peran dengan langkah, perantara dan perencanaan yang panjang sesuai dengan masalah, dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan bersama pada waktu mendatang dapat dibuat.
Pada dasarnya pemikiran yang positif,seseorang pemimpin haruslah mempunyai pemikiran yang postif, bahwa sesuatu harus dab akan dilakukan. Pemimpin adalah seseorang yang aktif dalam membuat hal-hal terlaksana. Ia bertugas sebagai koordinator, demikian pula dengan fungsinya yaitu mengusahakan dan melaksanakan suatu kerja untuk mencapai tujuan bersama. Berarti secara langsung pemimpin mengarahkan, mendekati, dan mengusahakan penyelesaian masalah dengan tercapainya tujuan bersama.
Lebih dari fungsi anggota lain, pemimpin mempunyai tugas untuk memimpin dan mengendalikan hal-hal detail dan spesifik, juga ia mengendalikan hubungan internal di dalam kelompoknya. Karena pada dasarnya dalam suatu kelompok manusia  selalu mengadakan interaksi, baik dengan benda mati maupun dengan orang-orang yang terlibat dalam kelompok itu demi pencapaian tujuan bersama, pemimpin mempunyai tugas untuk menjadi pengamat dan pengendali kelancaran hubungan-hubungan yang terjadi. Melalui kelancaran dan kebaikan perhubungan antar unsur, pencapaian tujuan bersama dapat terlaksana dengan lebih baik lagi. Dalam masalah demikian, pengetahuan tantang hubungan antar manusia, kecakapan untuk mengadakan komunikasi dan mendidik, kecakapan sosial, serta kemampuan teknis yang meliputi penganalisaan situasi menjadi tuntutan bagi dirinya selaku pemimpin.
Walaupun di dalam kedudukannya sebagai pemimpin, pengaruh keadaan sekitar tetap tidak dapat dilepaskansama sekali, baik pengaruh dari dalam maupun dari luar kelompok organisasinua. Atas pengaruh-pengaruh yang ada, maka dalam pembuatan kebijakan akan terdapat tiga sumber penting. Pertama, dari fikah yang lebih berkuasa, temasuk di dalamnya aturan-aturan yang berada di luar kelompoknya akan tetapi memberikan pengaruh terhadap kehidupan kelompoknya. Kedua bersumber dari pihak bawahan. Bagaimanapun juga bawahan sebagai pengikut, tetap memegang peran yang tidak kecil dalam menentukan pencapaian tujuan bersama. Sehingga pengaturan guna kelancaran pencapaian tujuan agar dapat terlaksana dengan baik terpengaruh pula oleh kedudukan pengikut. Ketiga, berasal dan bersumber dari dirinya sendiri selaku pemimpin. Sebagai seorang pemimpin, maka sekali waktu otonomi dipegangnya untuk menetapkan keputusan mengenai suatu kebijakan yang akan diambil.
Pada kesempatan-kesempatan demikian, kecakapan sosial pada umumnya sengat diperlukan, di samping  kecakapan lain yang meliputi kecakapan untuk mengadakan komunikasi dan mendidik, serta kecakapan teknis dalam menganalisa situasi secara menyeluruh dan teknik mengambil keputusan.
Melalui wewenang yang luas, pemimpin mempunyai ruang gerak yang luas pula. Ketajaman pendangan pengikut tarhadap pimpinannya bukan merupakan hal yang luar biasa. Sorotan dan penilaian terhadap diri pemimpin dapat terjadi perhatian para pengikut. Terlepas dari baik dan buruk, tentunya sikap, tindak dan cara dari seseorang pemimpin, diharapkan dapat dijadikan contoh atau teladan untuk ditiru dan diikuti oleh para pengikutnya.
Tuntutan terhadap oemimoin selaku penanggung jawab keseluruhan, serta sorotan dan pandangan yang terarah kepadanya, maka kesalahan-kesalahan yang diperbuat anggota kelompok sesuai dengan tingkatannya, pada akhirnya merupakan tanggung jawab pimpinan. Melalui pertanggungjawaban umum serta sorotan terhadap pemimpin, berarti kesalahan anggota dalam rangkaiannya akan menjadi kesalahan pemimpin.
Kecakapan-kecakapan yang diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin, tidak terlepas pula dari masalah kepribadian itu sendiri. Suatu pendapat beranggapan bahwa, pada dasarnya manusia dibentuk dan terbentuk oleh pengalaman, demikian pula halnya dengan kepribadian pemimpin, mempunyai kemungkinan pula untuk dibentuk dalam diri setiap orang, demikian dengan kecakapan-kecakapan yang diperlukan untuk menjadi pemimpin.
Peran-peran dari seseorang pemimpin seperti tertulis diatas, dapat dikatakan sebagai suatu bagian kecil dari tuntutan-tuntutan yang timbul terhadap dirinya. Peran-peran itupun menuntut pula berbagai masalah yang menyangkut kecakapan dan kemampuan, serta kepribadian tertentu yang kompleks sifatnya.
Kembali kepada pepatah yang dikemukakan Napoleon: “ Maka langkah baik seandainya kita mencoba  untuk memimpin diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mencoba untuk memimpin orang lain. Atau mungkin pula bila kita telah menjadi seorang pemimpin: “ Akan bertambah baiklah bila ada kesediaan serta usaha dari diri untuk meningkatkan pimpinan terhadap diri sendiri dan orang lain secara bersama”. Dengan melalui hal ini, bila memimpin diri sudah tidak menjadi masalah, maka kepemimpinan dan kewibawaan tidak akan mejadi persoalan pula, karena keduanya akan berjalan seiring dengan menyertainya.
Sesuai dengan keluasan wewenang dan tanggung jawabnya, dalam keadan tertentu pemimpin dapat menempati dan menggantikan peran dari kedudukan yang bersangkutan. Keadaan demikian tetap dimaksudkan untuk memperoleh kelancaran dalam usaha pencapaian tujuan bersanam. Kemacetan yang terjadi, baik karena ketidak hadiran atau ketidak mampuan seorang anggota, demi kelancaran adalah hak pemimpin untuk pengaturannya, dan mungkin pula akan diisi dan dilaksanakannya sendiri.
Walaupun secara keseluruhan dalam penggantian peran anggota lain  merupakan  peran dari seorang pemimpin, tetapi secara lebih khususnya berarti pemimpin mendapatkan tugas tambahan sesuai dengan kedudukan anggota lain yang digantikannya. Pada keadaan yang demikian, dapat terlihat peran seorang pemimpin sebagai ahli dan teladan bagi anggota lainnya.
D.      KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
Kepemimpinan  yang efektif sangat penting untuk kelangsungan hidup dan keberhasilan sebuah organisasi perusahaan. Tak seorangpun  yang berpendapat sama mengenai definisi terbaik untuk kepemimpinan, tapi dari definisi-definisi yang ada, setidaknya dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan mengandung arti bahwa seorang pemimpin mempengaruhi orang lain (bawahannya) supaya lebih bekerja keras dalam tugasnya, atau merubah kelakuan mereka. Sangatlah penting untuk dibedakan “ kepemimpinan” dengan kepemimpinan yang efektif. Untuk melihat efektif tidaknya suatu kepemimpinan, kita harus melihat hasil kepemimpinan itu.
Yang biasa dijadikan kriteria kepemimpinan yang efektif yaitu hasil kerjasama atau prestasi kelompok yang dipimpin atau unit bagiannya. Seorang pimpinan yang efektif tidak hanya bisa mempengaruhi bawahan-bawahannya, tapi juga bisa menjamin bahwa para bawahannya tersebut bekerja dengan seluruh kemampuan mereka.
Rasa tertarik pada masalah kepemimpinan terbukti sudah ada sejak permulaan tertulisnya sejarah umat manusia, tapi penyelidikan ilmiah mengenai kepemimpinan merupakan suatu hal yang relatif baru. Walaupun sudah ada beberapa kemajuan yang berhasil menyingkap tabir-tabir misteri yang menutupi proses kepemimpinan, banyak pertanyaan tetap tak terjawab. Tujuan tulisan dalam bab ini yaitu mengamati beberapa aspek kepemimpinan supaya kita memperoleh pengetahuan yang lebih  baik mengenai proses yang penting sebagai pemimpin.








BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Pemimpin merupakan pilar dan orang yang merupakan sorotan dari sebuah kelompok, karena pemimpin adalah pusat perhatian dari suatu kelompok atau organisasi dan merupakan pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan pada suatu bidang dan mampu mempengaruhi anggotanya dan mampu membangun gerak sosial yang memusat.
Kebanyakan faktor yang menetapkan seseorang menjadi pemimpin, meliputi masalah : kepribadian, kecakapan, dari yang bersangkutan dalam membangkitkan inspirasi para pengikut serta faktor-faktor lain yang ditampilkan oleh seseorang.

B.      SARAN
Dengan adanya makalah ini diharapkan kita mampu untuk memahami seluk-beluk seorang pemimpin. Dimana pemimpin yang ideal merupakan kunci utama dari keberhasilan suatu kelompok atau organisasi dalam mencapai tujuannya.
Maka dalam memilih dan menentukan suatu pemimpin dalam kelompok, bukanlah hal yang mudah. Karena harus mempertimbangkan hal yang signifikan dalam menentukan kualifikasi seorang pemimpin.







DAFTAR PUSTAKA
Anoraga, Panji. 2003. Psikologi Kepemimpinan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
(Diunduh tanggal 2 Oktober 2012, Pukul 10.15)
                (Diunduh Tanggal 2 Oktober 2012, Pukul 11.25)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar